Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Juli 2026 | 04.23 WIB

Megawati Kenang Peristiwa Kudatuli, Minta Aparat Negara Netral Tak jadi Alat Kekuasaan

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengenang peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (21/7). (Dok. PDIP) - Image

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengenang peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (21/7). (Dok. PDIP)

JawaPos.com - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengenang peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli. Ia menegaskan, peristiwa Kudatuli tidak boleh dipandang hanya bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Menurutnya, peristiwa itu merupakan simbol perjuangan melawan ketidakadilan yang perlu terus dikenang, terutama oleh generasi muda.

Pernyataan itu disampaikan Megawati saat membuka pameran sejarah dan arsip foto bertajuk Meretas Jalan Demokrasi di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).

Ia menyebut, inti dari Peristiwa Kudatuli adalah ketidakadilan yang terjadi secara struktural pada masa tersebut. Ia mempertanyakan alasan kantor partai yang sah secara hukum justru menjadi sasaran penyerangan oleh aparat keamanan pada era Orde Baru.

"Kudatuli itu adalah simbol. Simbol dari apa? Ketidakadilan! Lah, tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang, lalu kok saya dibegitukan? Dan serangnya itu juga bukan dari luar (asing, red), dari aparat kita!" tegas Megawati.

Megawati juga mengenang pengalaman pribadinya ketika menghadapi tekanan hukum setelah peristiwa tersebut. Ia mengaku pernah dipanggil untuk diperiksa oleh Kepolisian sebanyak tiga kali dan Kejaksaan satu kali, dengan pemeriksaan yang berlangsung dari pagi hingga malam.

Berangkat dari pengalaman itu, Megawati mengingatkan aparat Kepolisian dan TNI agar tetap menjunjung tinggi profesionalisme serta menjaga netralitas. Ia berharap, alat negara tidak lagi digunakan untuk kepentingan politik praktis maupun penyalahgunaan kekuasaan.

"Apakah alat negara itu akan dijadikan terus-menerus seperti apa yang saya alami pada waktu itu, pada waktu Kudatuli?" tanya Megawati.

Selain menyinggung peran aparat negara, Megawati turut menyoroti maraknya keberadaan buzzer di media sosial yang banyak melibatkan kalangan anak muda. Ia menyayangkan apabila kemampuan generasi muda dimanfaatkan untuk menyerang atau merusak nama baik orang lain hanya demi kepentingan ekonomi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore