
Politisi Golkar Ridwan Kamil saat memberikan keterangan kepada awak media di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat (31/5/2024). ANTARA/Narda Margaretha Sinambela
JawaPos.com – Sikap Partai Golkar yang terkesan ragu-ragu mengusung Ridwan Kamil (RK) di pilkada Jakarta dinilai wajar. Pasalnya, tantangan di Jakarta berbeda dengan karakteristik RK di Jawa Barat (Jabar).
Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto masih akan menunggu situasi hingga Juli untuk memutuskan nasib RK maju dalam pemilihan gubernur (pilgub). Termasuk menunggu hasil survei terbaru.
Pengamat politik BRIN Wasisto Raharjo Jati mengatakan, Golkar pasti membuat perhitungan cermat. Sebab, meski punya popularitas yang baik, RK punya tantangan mencocokkan dengan basis pemilihnya. ”Saya pikir salah satunya pertimbangan basis dan latar belakang pemilih yang berbeda antara Jabar dan Jakarta,” ujarnya kemarin (18/6).
Dari sisi kedekatan emosional, lanjut Wasisto, RK belum terlalu dekat dengan pemilih di Jakarta. Situasinya berbeda dengan pemilih di Jabar, kedekatannya sudah ada. ”Paling tidak, kedekatan emosional menjadi salah satu faktor pertimbangan pemilih di pilkada,” imbuhnya.
Namun, apakah Jakarta cukup berat untuk RK, Wasisto belum bisa menyimpulkan. Sebab, peluang akan sangat bergantung pada dinamika politik. Khususnya menyangkut peta koalisi dan lawan-lawannya. Sampai saat ini hal itu belum terlalu tampak. ”Kalau soal peluang sebenarnya dinamis,” ucapnya.
Di sisi lain, Wasisto juga menduga Golkar masih mengalkulasi perolehan kursinya dalam pembentukan koalisi. Di Jakarta Golkar dipastikan tidak bisa mengusung calon sendiri.
Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selaku peraih kursi terbanyak di Jakarta masih mengkaji semua opsi. Presiden PKS Ahmad Syaikhu menyatakan, ada banyak opsi. Bahkan, dia mengakui, ada tawaran bagi PKS untuk menjadi calon wakil gubernur pendamping RK dari Koalisi Indonesia Maju (KIM). ”Ada (tawaran) itu, makanya sedang kita coba analisis,” ujarnya kemarin.
Syaikhu mengungkapkan, pihaknya tengah menganalisis soal pilihan apa yang paling baik diambil. Semua pintu komunikasi dibuka dan belum ada yang final. Termasuk dengan Anies Baswedan.
Meski berupaya mengusung kader sendiri, Syaikhu mengisyaratkan akan bersikap cair. Mengusung Anies, misalnya, bisa saja berjalan dengan syarat wakilnya dari PKS. ”Soal siapanya nanti tergantung chemistry dengan Pak Anies, ditawarkan saja,” ucapnya. Namun, jika Anies tidak menghendaki, akan ada keputusan lainnya yang dikaji.
Dalam politik, Syaikhu menegaskan harus siap dengan berbagai konsekuensi. Termasuk apabila dalam pilgub Jakarta PKS harus melawan KIM. ”Ya, namanya konsekuensi pilkada, harus dipersiapkan berhadapan dengan siapa saja. Jadi, itu konsekuensi logis,” tandasnya. (far/rup/pra/c9/fal)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
