Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Februari 2019 | 18.13 WIB

Kubu 02 Klaim Tahu Alasan Di Balik Bergabungnya Ahok ke PDIP

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama tak lama setelah keluar dari Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. - Image

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama tak lama setelah keluar dari Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

JawaPos.com - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menilai bergabungnya Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menjadi kader PDI Perjuangan akan menjadi bom waktu yang merusak koalisi dari kubu petahana. Pasalnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memiliki ambisi besar pascakeluar dari penjara.


"Ahok bisa menghacurkan soliditas di sana. Semua tahu Ahok ini punya ambisi besar," kata Juru Bicara Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean, Minggu (10/2).


Tak heran, kata Ferdinand, Ahok kemudian memilih PDIP. Sebab mantan Bupati Belitung Timur itu harus memiliki kendaraan politik yang juga besar untuk mewujudkan ambisinya.


"Makanya dia pilih PDIP partai besar yang dinilai mampu jadi kendaraannya di jagat politik untuk mengusung ambisinya. Padahal semua juga tau PSI lah partainya para Ahoker," tuturnya.


Di sisi lain, Ferdinand yakin hadirnya Ahok dalam kubu Jokowi-Ma'ruf tidak akan menambah kekuatan elektoral pasangan calon petahana. Dia lebih yakin kalau eks Bupati Belitung Timur itu bakal menggerus elektoral dari segmen pemilih muslim.


"Kehadiran Ahok tidak akan berguna bagi Jokowi-Ma'ruf dan hanya akan jadi beban. Bisa saja kaum muslim akan berpaling dan meninggalkan Jokowi dengan hadirnya Ahok. Betul minoritas bisa makin berkumpul di PDIP dan Jokowi, tapi umat muslim mungkin akan pergi. Jadi Jokowi akan dirugikan," pungkasnya.


Diketahui, PDIP adalah kendaraan politik keempat bagi mantan Bupati Belitung Timur, Ahok atau yang kini lebih familiar disapa BTP. Pertama pada tahun 2004-2008 Ahok bergabung ke Partai Keadulatan Bangsa Indonesia Baru (PBIB).


Setelah itu pada 2008-2012 mantan Bupati Belitung Timur ini bergabung ke Partai Golongan Karya (Golkar). Kala itu dia terpilih menjadi anggota Komisi II DPR.


Ingin meraih jenjang yang lebih tinggi menjadi kepala daerah di DKI Jakarta, Ahok pun memutuskan pindah dari Partai Golkar ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 2012-2014.


Namun di 2014 dia memutuskan keluar dari Partai Gerindra. Alasannya karena dia ingin fokus menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pasalnya di 2014 silam Ahok enggan menjadi juru kampanye di Pilpres pasangan ‎Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa‎.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore