Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Februari 2017 | 17.49 WIB

SBY: Saya Sering Dilecehkan Secara Vulgar

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pidato politiknya dalam Dies Natalis dan Rapimnas Partai Demokrat di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2). - Image

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pidato politiknya dalam Dies Natalis dan Rapimnas Partai Demokrat di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2).


JawaPos.com - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bercerita pada saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden Indonesia. Menurutnya dirinya juga pernah menghadapi politik yang sering panas dan gaduh. Ungkap SBY, parlemen, pers, kaum pengamat dan kalangan LSM sangat kritis bahkan sinis terhadap dirinya dan pemerintahan dimpimpinnya.



"Unjuk rasa kerap terjadi, termasuk pula adanya Gerakan Cabut Mandat SBY yang jiwanya seperti makar (meskipun penglihatan saya belum berkategori makar). Kewibawaan dan kehormatan saya sering diserang dan dilecehkan secara vulgar," ujar SBY dalam Dies Natalies ke-15 Partai Demokrat, Selasa (8/2). 



Dalam kondisi dan situasi politik seperti itu, SBY mengaku sempat menyalahkan dirinya sendiri karena menganggap  terlalu demokratis dan terlalu baik. Bahkan sejumlah pihak menyarankan dirinya agar lebih tegas dan bertindak keras. "Kata mereka, demokrasi tak cocok untuk Indonesia. Rakyat tak boleh diberi ruang politik terlalu lebar, karena politik akan gaduh dan negara tidak stabil. Elit politik, pemilik modal dan pemimpin media massa kalau menyerang penguasa mesti digembosi dan dibikin diam," katanya.



Namun kendati demikian, SBY berterima kasih kepada orang yang sangat kritis dan sinis dulu, meskipun kini semuanya berubah menjadi pendiam. Karena jasa mereka pemerintahan yang saya pimpin tidak jatuh, dan saya bisa mengakhiri tugas saya tanpa halangan. 



Selain itu, SBY juga mengungkapkan di seluruh dunia banyak pemimpin yang akhirnya menjadi tiran dan diktator. Sebenarnya, mereka tidak dilahirkan demikian. Tetapi dalam perjalanan waktu, keadaanlah yang menjadikan seseorang menjadi tiran dan diktator itu. "Apalagi, kalau sang pemimpin tersebut mulai takut kehilangan kekuasaan," tuturnya.



SBY juga pernah bersumpah untuk tidak tergoda menjadi pemimpin yang otoriter dan represif. Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT pun mengabulkan permintaannya. Tetapi sepertinya Sang Pencipta tidak memberikannya begitu saja. Tidak gratisan. Hal itu harus dirinya tebus dengan kesabaran dan ketegaran saya bersama keluarga.




"Kami harus sabar dan tegar menghadapi serangan politik, fitnah dan pembunuhan karakter. Termasuk olok-olok dan penghinaan terhadap pribadi saya," pungkasnya. (cr2/JPG) 


Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore