
ILUSTRASI AI: JOKOWI-MEGAWAI. (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)
JawaPos.com – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akhirnya resmi memecat Joko Widodo (Jokowi) dari keanggotaan partai setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI.
Peristiwa pemecatan Jokowi sebagai kader PDIP menjadi salah satu topik hangat pada isu politik 2024. Sebab, Jokowi tergolong sebagai salah satu kader yang cukup senior di PDIP. Sekaligus menjadi tokoh kedua dari PDIP yang berhasil menduduki jabatan presiden, setelah Megawati.
Meski PDIP telah mendukung Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo, Gubernur Jakarta, hingga Presiden RI dua periode, pemecatan tetap tak terhindarkan. Selain Jokowi, PDIP juga memecat anak dan menantunya, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution.
Perseteruan antara Jokowi dengan PDIP sebenarnya dimulai sejak 2023. Setelah hadirnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 90/PUU-XXI/2023, terkait usia minimal calon presiden dan calon wakil presiden pada UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
Putusan itu memuluskan jalan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden (cawapres), mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang maju sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2024.
Perseteruan itu pun memunculkan polemik panjang. Lantaran pada Pilpres 2024, PDIP mengusung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebagai capres-cawapres.
Di balik konflik politik yang terjadi antara Jokowi dan PDIP, kedua pihak sempat memiliki hubungan yang mesra selama hampir dua dekade. Berikut ulasannya.
Jokowi resmi bergabung menjadi kader PDIP 20 tahun silam, tepatnya pada 2004. Momen itu terjadi sebelum Jokowi mencalonkan diri sebagai wali kota Solo. Saat itu, ia menduduki posisi sebagai salah satu pengurus di DPC PDIP Solo.
Setahun setelahnya, pada 2005, pria kelahiran 21 Juni 1961 itu maju di Pilkada Kota Solo dengan diusung oleh PDIP dan PKB. Jokowi maju bersama politikus senior PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy, dan terpilih menjadi Wali Kota Solo.
Jokowi dan FX Rudy maju kembali untuk periode kedua pada 2010 dan menang mutlak. Karir Jokowi di Solo pun terbilang mulus.
Keberhasilan Jokowi di Solo mengantarkan dirinya ke kancah politik ibu kota. Jokowi yang saat itu merupakan kader PDIP memutuskan maju sebagai calon gubernur (cagub) Jakarta pada Pilkada 2012.
Dia berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat itu merupakan kader Partai Gerindra.
Menjelang Pilpres 2014, Jokowi saat itu digadang-gadang maju sebagai capres. PDIP lantas resmi memutuskan mengusung Jokowi, yang belum genap dua tahun menjabat sebagai gubernur Jakarta.
Jokowi lalu berpasangan dengan politikus senior Partai Golkar Jusuf Kalla. Mereka mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan menjabat pada periode 2014–2019.
Setelah selesai pada periode pertama, PDIP kembali mengusung Jokowi pada Pilpres 2019, dan berpasangan dengan Ma'ruf Amin.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
