Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2026 | 03.43 WIB

Kesempatan Kerja Penyandang Disabilitas Masih Terbatas, Pelatihan Vokasi Jadi Jembatan Menuju Kemandirian

Ilustrasi kelompok difabel mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan tangan di Cirebon. (Disnaker Cirebon/Antara) - Image

Ilustrasi kelompok difabel mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan tangan di Cirebon. (Disnaker Cirebon/Antara)

JawaPos.com - Kesempatan kerja yang masih sempit menjadi tantangan besar bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Di tengah keterbatasan akses pelatihan dan rendahnya penyerapan tenaga kerja difabel, berbagai upaya mulai dilakukan untuk membuka jalan menuju kemandirian ekonomi melalui program vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas masih relatif rendah. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat hanya 702 penyandang disabilitas yang berhasil mendapatkan penempatan kerja melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) sepanjang 2023.

Minimnya jumlah ULD menjadi salah satu kendala utama. Hingga kini, ULD baru tersedia di 28 provinsi atau sekitar 73,7 persen dari total 38 provinsi di Indonesia. Di tingkat kabupaten dan kota, jumlahnya lebih rendah lagi, yakni hanya 179 ULD atau sekitar 34,82 persen dari total 514 daerah.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak penyandang disabilitas yang sebenarnya memiliki kemampuan dan potensi kerja belum memperoleh akses pelatihan maupun kesempatan memasuki dunia kerja formal. Akibatnya, kemandirian ekonomi kelompok ini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, upaya memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas dilakukan melalui Program Vokasi Disabilitas yang berlangsung di Gedung Islamic Center Brebes selama sepekan. Program ini dirancang untuk memberikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus membuka peluang penempatan kerja bagi peserta.

Sebanyak 30 peserta dari komunitas difabel di Brebes dan wilayah sekitarnya mengikuti pelatihan keterampilan menjahit dengan skema Operator Jahit Sepatu. Pelatihan difasilitasi oleh Ruang Amal Indonesia dan memberikan pembekalan teknis yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha.

Selain meningkatkan kemampuan peserta, program tersebut juga dirancang sebagai penghubung antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja difabel. Peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki kompetensi yang dapat diakui dan sesuai dengan standar industri.

Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Cabang Pekalongan Agus Suyana mengatakan, pemilihan keterampilan menjahit sepatu dilakukan karena industri alas kaki masih membutuhkan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten.

"Menjahit sepatu adalah skill teknis spesifik yang minim risiko dengan ruang gerak terbatas sehingga cocok untuk penyandang disabilitas baik fisik maupun motorik. Kami berharap, sekali terampil langsung dapat diserap UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan industri," kata Agus di Brebes, Jawa Tengah.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore