
Mendikbud Nadiem Makariem. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, mengungkapkan indikator yang membuat banyaknya industri, masih enggan menyerap lulusan dari pendidikan vokasi. Salah satunya adalah terkait produktivitas di dunia kerja.
Padahal, menurut dia, dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah dari produktivitas SDM itu sendiri. Namun, sayangnya, hal itu masih belum terjadi karena tidak adanya sinergi antara kedua belah pihak, terkait kompetensi seperti apa yang dibutuhkan oleh industri itu sendiri.
Akan tetapi, dengan adanya program link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri, peningkatan produktivitas dapat terjadi. Di mana hal tersebut juga akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Secara makro (ekonomi) negara kita tentunya akan diuntungkan karena total factor productivity yang terpenting di Indonesia, yang kita maksudkan Indonesia nggak efisien adalah karena total factor productivity," terang dia dalam peluncuran Rumah Vokasi secara virtual, Rabu (15/7).
"Jadi kunci dasar awal dari total factor productivity Indonesia untuk meningkatkan itu adalah SDM, itu kunci pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya, terutama yang muda mengunakan tools dan teknologi baru dan bekerja secara lebih efisien, dengan soft skill yang diperlukan oleh industri," sambung Nadiem.
Dengan kerjasama ini, dunia industri akan ikut mengintervensi dalam kurikulum dan pengajaran yang ada di pendidikan vokasi, sesuai kompetensi yang diinginkan dunia usaha.
Dengan begitu, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya dalam melatih lulusan baru ketika masuk ke dalam perusahaan, dan lulusan vokasi dapat terserap tenaganya setelah mendapatkan kompetensi yang diminta industri. Kata dia, ini merupakan simbiosis mutualisme.
"Kalau ada salah satu lulusan yang produktivitasnya bisa bekerja dua sampai tiga kali lipat, itu industri akan berebut untuk mengambil itu (lulusan vokasi), itulah gunanya punya sistem pendidikan vokasi, harus ada added value productivity dari industri untuk mengambil," jelasnya.
Apalagi, dalam industri tentunya ada jumlah tenaga kerja yang bisa diserap setiap tahunnya karena mempertimbangkan pengeluaran dan pertumbuhan perusahaan.
Namun, jika produktivitas para lulusan semakin meningkat, maka perusahaan pun akan berlomba-lomba untuk menyerap mereka, karena tidak perlu investasi uang untuk mendidik mereka, sebab hal itu telah dilakukan ketika mengikuti program link and match.
"Kalau lulusan SMK atau perguruan tinggi vokasi menciptakan anak 2 kali lipat lebih produktif daripada entry level job yang lainnya karena sudah 2-3 tahun dikondisikan mengetahui domain kompetensi itu, demand job itu secara otomatis growth, demand untuk job itu tidak statis, itu selalu dinamis pertumbuhannya tergantung rata-rata produktivitas daripada orang-orang tersebut," jelasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
