Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Desember 2019 | 21.56 WIB

Pendidikan Nasional setelah Hasil Buruk di PISA

Sejumlah siswa membaca buku pelajaran jelang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 40 Jakarta Utara, Minggu (1/4). (Adi Ibrahim/JawaPos) - Image

Sejumlah siswa membaca buku pelajaran jelang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 40 Jakarta Utara, Minggu (1/4). (Adi Ibrahim/JawaPos)

JawaPos.com - Harus ada evaluasi menyeluruh terkait dengan buruknya hasil para siswa Indonesia di Programme for International Student Assessment (PISA). Evaluasi tersebut menyangkut program pemerintah, juga perlunya merevisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

”Hampir 20 tahun dengan anggaran ribuan triliun (rupiah, Red) kita telah berhasil mempertahankan kebodohan,” ujar pengamat pendidikan Indra Charismiadji kepada Jawa Pos kemarin (4/12).

Hasil PISA yang dirilis The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan, kemampuan membaca siswa tanah air meraih skor 371. Jauh di bawah rata-rata, yakni 487.

Demikian pula kemampuan matematika. Hanya mencapai 379 poin dari rata-rata 487 poin. Begitu juga menilik kemampuan sains siswa Indonesia dengan skor 389. Angka tersebut selisih 100 poin dari rata-rata 489 poin.

Menurut Indra, legislatif harus berani membuat UU Sisdiknas yang baru. Harus masuk prolegnas (program legislatif nasional). Sebab, mutu pendidikan Indonesia sudah parah. Sementara pemerintah harus bertanggung jawab. Pelatihan guru, perekrutan guru, dana bos, pembangunan unit sekolah baru, dan banyak hal lainnya harus dievaluasi.

”Tugas pemerintah menurut Undang-Undang Dasar 1945 itu kan mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas nggak selama 20 tahun ini?” selorohnya.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli menyarankan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengubah sistem pendidikan dengan mengedepankan keahlian. Hal itu bisa dipelajari langsung dari negara tetangga Singapura yang berhasil mengelola pendidikan dengan menempati posisi puncak PISA 2015.

Ramli menjelaskan, kunci utama keberhasilan Singapura terletak pada sistem pendidikan yang berbasis pada keahlian atau prestasi, kurikulum, anggaran pendidikan, kualitas guru, dan desentralisasi pendidikan. Melalui sistem pendidikan yang mengedepankan meritokrasi tersebut, kompetensi anak bisa teridentifikasi secara lebih baik. ”Bahkan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang berdasar bakat yang dimiliki,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno menuturkan, hasil PISA akan menjadi bahan refleksi untuk perbaikan. Mencari tahu penyebab rendahnya skor tersebut dan mengetahui kekurangan yang dialami siswa tanah air.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore