
INTERAKTIF: Umi Fatimah Savitri saat memberikan mata pelajaran sejarah.
Bagi Umi Fatimah Savitri, sejarah yang sudah berlalu biarlah berlalu. Tapi, bukan berarti sejarah tidak penting. Sejarah justru menjadi bahan pembelajaran agar semakin baik ke depan. Hal itulah yang diterapkannya kepada setiap anak didik di SMA Khadijah Surabaya.
PENGALAMAN selalu mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran sejarah saat SMA mendorong Umi Fatimah Savitri menjadi guru sejarah.
Dulu dia mudah mengingat semua materi yang diberikan gurunya. Karena itu, saat mendaftar kuliah di IKIP PGRI Surabaya, dia memilih mata kuliah tersebut.
Setelah lulus kuliah, Umi mendapat kesempatan menjadi guru sejarah. Sadar bahwa mata pelajaran yang diampunya sering menjadi momok bagi siswa, Umi menerapkan pola pengajaran berbeda sehingga sejarah tak lagi menjadi beban bagi siswa.
Umi merupakan guru yang selalu menunjukkan ekspresi semangat. Setiap masuk kelas, dia menyapa murid-muridnya dengan ramah.
Suara lantang menjadi keuntungan untuk mendapatkan perhatian anak didiknya yang mulai lelah kala hari semakin siang. ’’Ayo cuci muka dulu,’’ jelasnya menyemangati.
Para murid pun menurut. Ada sebagian yang pergi ke luar kelas untuk mencuci muka. Sebagian lagi duduk di kelas sambil menepuk badan agar kembali berfokus. Setelah jumlah siswa lengkap, pelajaran dimulai.
Di dalam pola pengajaran Umi, murid-murid tak akan dituntut menghafal deretan tanggal dan tahun peristiwa tertentu. Stereotip guru sejarah seperti itu sudah lama dia tinggalkan.
Dia lebih banyak menyampaikan materi peristiwa masa lampau sebagai pembelajaran pada era saat ini. ’’Sudah nggak zaman menghafalkan angka,’’ katanya, lalu tersenyum.
Begitu pula saat memberikan ulangan harian. Angka tidak pernah muncul dalam soal-soal yang dibuatnya. Lebih banyak soal uraian. Anak-anak diminta menjelaskan arti peristiwa tertentu.
Sementara itu, soal-soal ujian akhir semester dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Dalam mengajarkan sejarah, Umi lebih banyak menekankan bahwa ilmu itu penting dan bisa bermanfaat bagi para siswa.
Karena itu, dia memberikan komparasi dengan kejadian saat ini. Kemudian, dia mengajak para siswa berdiskusi.
Misalnya, materi pemerintahan presiden Indonesia. Saat itu, dia menjelaskan, Indonesia tak hanya pernah dipimpin presiden, namun juga seorang perdana menteri. Tepatnya pada 1945–1959.
Djuanda Kartawidjaja adalah perdana menteri ke-10 dan terakhir Indonesia. ’’Yang namanya sekarang dipakai untuk nama Bandara Juanda itu lho,’’ ujarnya menirukan ucapannya saat mengajar murid di kelas.
Begitu pula materi yang lain. Perempuan yang menjadi guru di SMA Khadijah sejak 1993 tersebut sebisa-bisanya memberikan pengetahuan tambahan yang bermanfaat bagi siswa.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
