
Menristekdikti Mohammad Nasir saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu
JawaPos.com - Forum Rektor Indonesia (FRI) mendukung terciptanya program studi baru atau kekinian di lingkungan universitas, misalnya terkait dengan industri kopi dan digital ekonomi. Namun, perkembangan prodi sejatinya harus lebih fleksibel.
“Sebenarnya namanya juga program, tentu harus fleksibel. Saya setuju saja ada prodi kekinian atau digital ekonomi,” ujar Wakil Ketua Dewan Pertimbangan FRI Asep Saefuddin saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (18/11).
Dia berharap prodi tersebut berada dalam satu fakultas atau departemen dan jurusan yang lebih kokoh. Misalnya, prodi kopi berada di Fakultas Pertanian atau Departemen Agribisnis. Pembukaan prodi juga harus lebih mudah tanpa terbelit izin Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti).
“Sehingga pembukaan prodi itu tidak perlu ijin Kemenristekdikti. Serahkan saja kepada universitas yang memiliki fakultas pertanian atau departemen yang relevan,” kata dia.
Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) itu menyebutkan, birokrasi yang terjadi saat ini menjadi kendala tersendiri dalam perubahan prodi yang mengikuti perkembangan zaman.
“Saat ini memang salah kaprah, prodi saja mesti izin kementerian. Sehingga tidak fleksibel, kaku, tidak cepat melihat perubahan. Jadi masih terkendala birokrasi yang lambat,” tandasnya.
Meski sudah diberikan keleluasaan untuk menciptakan prodi baru tanpa aturan atau nomenklatur. Pada kenyataannya, pembukaan prodi belum bisa dilakukan dengan singkat.
“Tetap saja harus minta izin Kemenristekdikti. Memang dibandingkan dengan beberapa tahun yg lalu, saat ini lebih cepat tapi masih lambat, yakni sekitar 4 bulan. Mestinya cukup 1 minggu. Bahkan sebenarnya pembukaan prodi serahkan saja kepada universitas,” tutur Asep.
Sebelumnya, untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan prodi, Menristekdikti Mohamad Nasir memberi kebebasan kepada universitas. Kini, kampus bisa dengan mudah mengajukan pembukaan prodi baru tanpa nomenklatur selama bisa menghasilkan lulusan yang terserap industri.
“Ini sudah saya cabut peraturan ini, sudah diganti peraturan baru. Silakan itu para program studi akan dibuka, tetapi harus lihat pada siapa demand-nya, jangan sampai mencetak tenaga kerja penganggur, tapi mencetak tenaga kerja yang profesional pada bidangnya yang diinginkan industri,” paparnya, Selasa (6/11).
Adapun prodi kekinian yang sudah ada, di antaranya Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi, Prodi Film, Prodi Teknologi Pulp dan Kertas, Prodi Informatika Medis, Prodi Teknik Mekatronika, dan Prodi Sains Data.
Kemenristekdikti juga memberikan rekomendasi kepada perguruan tinggi untuk membuka prodi visioner Sains Perkopian, Prodi Ekonomi Perkopian, Pendidikan Barista, Prodi Seni Meme.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
