
JELAJAH CAGAR BUDAYA: Peserta kegiatan menapaki situs Gunung Penanggungan mengunjungi Candi Jedong.
JawaPos.com- Gunung Penanggungan di Mojokerto kaya cagar budaya. Saat ini tim ekspedisi Gunung Penanggungan Universitas Surabaya (Ubaya) terus melakukan eksplorasi. Hingga 2017, tercatat 198 cagar budaya.
’’Setiap didata, jumlahnya makin bertambah,’’ ujar Hadi Sidomulyo, staf ahli tim ekspedisi Gunung Penanggungan Universitas Surabaya (Ubaya). Puluhan peserta, yakni mahasiswa dan siswa, yang ikut kegiatan di rumah peradaban situs Gunung Penanggungan di Trawas, Kabupaten Mojokerto, itu terlihat heran. Beberapa mengernyitkan dahi. Hadi lantas menunjukkan foto-foto cagar budaya Gunung Penanggungan dalam slide-nya. ’’Ini situs-situs yang belum lama ditemukan. Setiap mendaki, selalu menemukan yang baru,’’ terangnya.
Jumlah cagar budaya yang ditemukan tersebut meningkat signifikan sejak 2012. Terutama setelah 2015. Pada 2015, tercatat 112 cagar budaya. Pada 2017, sudah tercatat 198 cagar budaya. Ragamnya adalah candi, tangga batu, gua, jalan kuno, hingga punden berundak.
’’Gua pertapaan saja ada 25 gua,’’ katanya. Gua tersebut merupakan gua alam yang ada tambahan bangunan kuno di bagian dalam maupun luar. Misalnya, Gua Totokan di Gunung Bekel dan Gua Manu di sisi timur laut Gunung Penanggungan.
Hadi mengungkapkan, jalur menuju Gunung Penanggungan lebih mudah sejak 2012. Jadi, akses untuk penelitian ke sana terbuka lebih lebar. Apalagi, Hadi menetap di Ubaya Penanggungan Center (UPC) di lereng Gunung Penanggungan. Dia pun memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasi peninggalan sejarah di gunung dengan tinggi 1.653 meter di atas permukaan laut tersebut. ’’Pertama saya ke sini pada 2012, terdata 60-an cagar budaya,’’ jelasnya.
Salah satu yang istimewa, ditemukan jalan kuno yang mengitari Gunung Penanggungan pada 4 November 2015. Dia menyebutnya sebagai jalan prosesi. Penemuan tidak lama setelah kebakaran hutan di Gunung Penanggungan. Diperkirakan, jalur itu menjadi jalur kereta kuda pada masa Majapahit. Sebab, lebarnya mencapai 3 meter.
Yang menarik, di bagian luar jalan yang berhadapan langsung dengan lereng gunung, terdapat batu-batu kuno penyangga. Fungsinya adalah tanggul. Kukuh sampai sekarang. ’’Memutari gunung hingga sampai ke puncak,’’ ujar pria asal London, Inggris, tersebut. Saking kagumnya, Hadi mengibaratkannya sebagai miniatur Tembok China.
Jalan didesain tidak terlalu menanjak. Dengan begitu, perjalanan ke puncak menggunakan jalur itu tidak terasa melelahkan. ’’Saya sudah bolak-balik lewat, napas tetap sama, tidak ngos-ngosan,’’ ucapnya.
Ada pula peninggalan cagar budaya berupa Pemandian Jolotundo. Lokasi itu tercatat ada pada 899 Saka atau 977 Masehi. ’’Itu yang paling tua,’’ papar pria 65 tahun tersebut. Yang paling muda pun, lanjut dia, ada. Yaitu, Candi Merak. Tercatat, candi itu didirikan pada 1433 Saka atau pada 1511 Masehi.
Dengan kekayaan tersebut, lokasi itu layak menjadi warisan budaya dunia. Meski demikian, Hadi mengimbau untuk bersabar. Sebab, gunung yang juga disebut sebagai Pawitra itu lebih kaya daripada yang sudah terlihat saat ini. ’’Biarkan para ilmuwan turun dulu,’’ tuturnya.
Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Andi Muhammad Said mengajak semua pihak bertanggung jawab terhadap cagar budaya Gunung Penanggungan. ’’Jangan takut melapor kepada pemerintah kalau menemukan kekayaan budaya,’’ tegasnya. Sebab, walau dilaporkan, peninggalan sejarah tersebut tetap menjadi milik yang menemukan. ’’Ketika menemukan, lalu yang melaporkan itu akan untung karena dapat dua surat,’’ ungkapnya.
Pertama, surat bahwa bangunan atau benda tersebut adalah cagar budaya dengan nilai tinggi. Kedua, penemu itu bakal mendapatkan keterangan bahwa cagar budaya tersebut merupakan miliknya. Jadi, orang lain tidak bisa mengklaimnya. ’’Setiap orang boleh mengelola dan memanfaatkan cagar budaya, boleh juga diperjualbelikan,’’ terangnya. Asalkan, cagar budaya itu tidak keluar dari wilayah Indonesia.
Karena menjadi destinasi pendidikan, peserta diajak ke Candi Jedong. Mereka melihat langsung dua candi berbentuk gapura yang berdiri sejak 1385 Masehi di lereng Gunung Penanggungan. (uzi/c14/nda)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
