Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Juni 2018 | 02.48 WIB

Rame Pilgub Sulsel, Begini Analisa Mantan Menkumham Hamid Awaluddin

Mantan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin saat memberikan keterangan di Makassar, Jumat (15/6) - Image

Mantan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin saat memberikan keterangan di Makassar, Jumat (15/6)

JawaPos.com - Mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin mengapresiasi pelaksanaan Pilgub Sulawesi Selatan (Sulsel) 2018. Keempat paslon yang maju dalam pilgub menurutnya merupakan putra-putra terbaik Sulsel. Bila diilustrasikan, mereka memiliki kemampuan dan pengalaman deduktif dan induktif dalam kepemimpinan.


Dari empat kandidat, Hamid menyebut calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel nomor urut 1, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), yang paling komplet terkait kemampuan dan pengalaman deduktif dan induktif.


Kemampuan induktif yang dimaksud adalah pengalaman merintis karir dari bawah ke atas. Sedang kemampuan deduktif sebaliknya, khususnya kepemimpinan di level pusat. Kemampuan dan pengalaman induktif NH-Aziz terlihat dari rekam jejaknya.


NH merintis karir dari manajer koperasi di daerah hingga akhirnya menjadi Ketua Dewan Koperasi Indonesia sekaligus Wakil Presiden Koperasi Asia Pasifik. Dari Manajer PSM Makassar hingga menjadi Ketua PSSI dan dari politikus biasa menjadi elite Golkar.


Begitu pula dengan Aziz yang berbasis dari lingkungan pesantren berhasil merintis karir menjadi anggota DPD RI tiga periode. "Kalau dilihat NH-Aziz itu tokoh nasional. Tapi mereka itu merintis dari bawah jadi kemampuan dan pengalamannya itu gabungan," kata Hamid, kepada awak media di Makassar, Jumat (14/6). 


Di mata Hamid, ketiga paslon lain juga punya keunggulan terkait kemampuan dan pengalaman. Tapi, rata-rata cuma memiliki satu kemampuan antara deduktif atau induktif. Misalnya Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) dan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) yang hanya memiliki kemampuan induktif dengan pengalaman sebagai mantan bupati dua periode.


Lalu, Agus Arifin Nu'mang-Tanribali Lamo di mata Hamid memiliki kemampuan dan pengalaman deduktif. Pasangan ini merupakan tokoh dengan kemampuan di level lebih tinggi yang bergulir ke bawah. Misalnya Agus merupakan mantan Wakil Gubernur Sulsel dua periode dan mantan Ketua DPRD dua periode. Sedangkan, Tanribali mantan pelaksana tugas Gubernur di dua provinsi dan mantan Direktur Jenderal Lingkup Kemendagri.


"NA itu kan bupati artinya pengalamannya dari bawah. Begitu pula dengan IYL maupun Cakka. Sedangkan Agus-Tanribali lebih kepada pengalaman memimpin. Agus kan mantan wakil gubernur dua periode dan mantan ketua DPRD. Lalu, Tanribali mantan penjabat gubernur dan direktur jenderal di kementerian," ucapnya.


Terlepas dari itu, kehadiran empat paslon pada Pilgub Sulsel 2018, membuat peta persaingan sangat ketat diyakini tidak akan membuat pesta demokrasi menjadi ribut. Malah, banyaknya paslon membuat pertarungan menjadi lebih terbuka dan tidak akan berakhir konflik. Berbeda bila skenarionya head to head alias hanya diikuti oleh dua pasangan calon.


"Pilgub Sulsel 2018 tidak akan tegang. Yang tegang kalau head to head tapi ini kan ada empat calon jadi ada distribusi perhatian yang merata, tidak fokus. Semua ini patut disyukuri karena rakyat Sulsel punya lebih banyak pilihan," pungkasnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore