
Ilustrasi anak dan ayah. (pexels.com)
JawaPos.com – Istilah daddy issue sering muncul dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan seseorang yang bermasalah dalam hubungan asmara. Namun, secara psikologis, daddy issue memiliki makna lebih dalam, yakni luka emosional akibat pola asuh atau relasi yang tidak sehat dengan figur ayah.
Menurut laman Verywell Mind, daddy issue umumnya terjadi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, menghadapi ayah yang terlalu otoriter, atau mengalami hubungan penuh konflik. Kondisi ini menciptakan pola emosional tertentu yang terbawa hingga dewasa, terutama dalam membangun relasi interpersonal.
Apa itu Daddy Issue?
Secara psikologis, daddy issue merujuk pada kesulitan seseorang dalam membangun hubungan sehat akibat pengalaman masa kecil dengan figur ayah yang penuh masalah. Talkspace menjelaskan, anak yang kurang kasih sayang atau validasi dari ayah dapat tumbuh dengan rasa tidak aman, sulit percaya pada orang lain, hingga ketergantungan emosional.
Fenomena ini tidak hanya dialami perempuan, meski sering digambarkan demikian. Laki-laki pun bisa mengembangkan daddy issue dalam bentuk agresivitas berlebihan, sulit mengekspresikan emosi, atau kesulitan menjalin hubungan yang stabil.
Siapa yang Rentan Mengalami?
Penelitian dalam Loupias Conference (2023) menemukan bahwa individu yang mengalami kehilangan ayah sejak kecil atau memiliki ayah yang hadir secara fisik namun absen secara emosional lebih rentan mengembangkan daddy issue. Situasi ini memperbesar risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga masalah dalam mengenali batasan sehat (healthy boundaries).
Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari
Hubungan Asmara yang Tidak Stabil
Menurut PsychCentral, seseorang dengan daddy issue cenderung mencari figur pengganti ayah dalam pasangan. Hal ini bisa menimbulkan pola ketergantungan, rasa cemburu berlebihan, atau takut ditinggalkan.
Kepercayaan Diri Rendah
Anak yang tidak mendapat dukungan emosional dari ayah sering tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik. Riset dari Halodoc menyebutkan, hal ini berdampak pada rasa minder dalam lingkungan sosial maupun akademik.
Kesehatan Mental Terganggu
Studi dari Thriveworks menegaskan, daddy issue yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan stres kronis, kecemasan, bahkan depresi.
Kesulitan Membangun Relasi Sosial
Kurangnya model peran ayah yang sehat dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, membatasi kemampuan mereka dalam membangun persahabatan atau jaringan kerja yang sehat.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Para psikolog menekankan bahwa daddy issue bukanlah kondisi permanen. Dengan pendekatan tepat, seseorang bisa pulih dan menjalani kehidupan lebih sehat. Berikut langkah yang disarankan:
Menyadari Pola yang Ada
Langkah pertama adalah mengenali bahwa luka emosional dari masa lalu memengaruhi pola hubungan saat ini. Kesadaran ini penting untuk memutus siklus yang tidak sehat.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
