Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 16.21 WIB

Kenapa Pujian Bisa Berdampak Negatif? Ini Cara Memuji yang Sehat

Ilustrasi orang tua dan anak - Image

Ilustrasi orang tua dan anak

Pilih Kata-Kata yang Fokus pada Proses

Lantas, bagaimana seharusnya kita memuji anak? Yang terbaik adalah memberi pujian yang fokus pada proses dan usaha, bukan hasil akhir atau bakat bawaan.

Misalnya, saat anak selesai menggambar, hindari langsung berkata, “Wah, keren banget gambarnya!” Coba ganti dengan komentar yang lebih deskriptif seperti, “Kamu pilih warna biru untuk singanya, ya? Warnanya cerah banget.”

Atau ketika anak berhasil memakai baju sendiri, daripada berkata “Pintar banget kamu,” lebih baik katakan, “Tadi kamu sabar banget pas masang kancingnya. Butuh waktu, tapi kamu nggak menyerah.”

Dengan begitu, anak tahu bahwa yang kita hargai adalah proses, usaha, dan ketekunannya, bukan semata-mata hasil atau kecepatan menyelesaikan sesuatu.

Tidak Semua Hal Perlu Dipuji

Kadang, kita terlalu cepat ingin merespons. Padahal, jika anak sedang asyik dan tidak sedang mencari perhatian, kita tak perlu memberi pujian apa pun. Biarkan mereka menikmati keberhasilan dan kebanggaan versi mereka sendiri.

Namun, saat anak memang datang dengan antusias, misalnya sambil berseru, “Mama, aku pup di potty!”, respons yang baik bisa seperti, “Wah, kamu kelihatan bangga banget! Rasanya gimana?”

Di sini, kita tidak menghakimi atau mengevaluasi, tapi mengakui perasaannya dan membantunya memahami emosi positif yang muncul dari keberhasilan.

Hindari Pujian untuk Hal yang Tak Bisa Mereka Kontrol

Penting juga untuk tidak terlalu sering memuji hal-hal yang tak bisa anak kendalikan, seperti kecantikan, kecerdasan, atau bakat alami. Sebaiknya, arahkan pujian ke aspek yang bisa mereka upayakan: usaha, tanggung jawab, sikap, pilihan, dan kebaikan hati.

Misalnya, saat anak membantu membereskan mainan, katakan, “Terima kasih sudah bantu beresin. Sekarang ruangan jadi lebih nyaman, ya.” Atau ketika anak berbagi mainan, tanya, “Bagaimana rasanya setelah kamu berbagi?”

Kata-kata seperti itu mengajak anak merefleksikan tindakannya dan memahami dampaknya secara lebih dalam—bukan hanya sekadar merasa “jadi anak baik”.

Cara Bereaksi Saat Anak Gagal

Pujian juga bukan satu-satunya hal penting. Reaksi kita saat anak gagal bahkan jauh lebih menentukan. Ketika anak frustrasi karena puzzle-nya tak kunjung selesai, hindari buru-buru menolong atau memberi solusi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore