
Ilustrasi: Anak-anak memakan kacang. (Shutterstock).
JawaPos.com - Banyak orang tua mengira anak yang menolak makan hanya karena 'pilih-pilih' soal rasa. Namun, dalam banyak kasus, penolakan itu bisa jadi tanda bahwa si kecil mengalami alergi terhadap makanan tertentu.
Alergi makanan pada anak bukan sekadar gatal di kulit. Reaksi yang muncul bisa beragam, dari ruam ringan hingga kondisi serius seperti anafilaksis, yang dapat membahayakan nyawa.
Karena itu, mengenali sumber makanan pemicu alergi menjadi langkah penting bagi setiap orang tua. Berikut 7 makanan yang paling sering memicu alergi pada anak, beserta penjelasannya:
Susu sapi menjadi penyebab alergi paling umum pada bayi dan anak-anak. Reaksi biasanya muncul setelah anak mengonsumsi susu formula berbahan dasar susu sapi atau produk olahannya seperti keju dan yogurt.
Alergi ini disebabkan oleh protein kasein dan whey di dalam susu. Kabar baiknya, sebagian anak dapat “sembuh” dari alergi ini seiring bertambahnya usia.
Baik putih maupun kuning telur bisa memicu reaksi alergi. Karena protein telur sering tercampur, sulit menghindarinya sepenuhnya.
Anak yang alergi telur mungkin mengalami ruam kulit, mual, atau sesak napas setelah makan makanan yang mengandung telur, seperti kue atau roti.
Kacang tanah dan kacang pohon (seperti almond, pistachio, atau kenari) termasuk dalam daftar pemicu alergi berat.
Reaksi alerginya bisa sangat cepat dan parah. Itulah mengapa banyak sekolah kini melarang bekal makanan berbahan kacang demi keamanan anak-anak.
Meski sering dianggap sehat, kedelai bisa menimbulkan alergi pada sebagian anak.
Protein kedelai banyak ditemukan dalam makanan olahan seperti tahu, tempe, saus, bahkan camilan ringan.
Ibu perlu lebih teliti membaca label kemasan sebelum membeli produk untuk si kecil.
Alergi terhadap gandum bukan hal yang sama dengan intoleransi gluten, tetapi bisa menimbulkan gejala serupa: gatal, muntah, atau gangguan pencernaan.
Coba perhatikan jika anak sering rewel setelah makan roti atau biskuit—bisa jadi ada reaksi alergi yang tersembunyi.
Alergi ikan bisa muncul sejak pertama kali anak mencoba menu laut.
Menariknya, anak yang alergi terhadap satu jenis ikan (misalnya salmon) sering kali juga sensitif terhadap jenis ikan lainnya. Jadi, sebaiknya hindari semua produk ikan dulu hingga mendapat hasil pemeriksaan dokter.
Udang, kepiting, cumi, dan lobster termasuk kelompok makanan laut yang paling berisiko memicu alergi.
Reaksi bisa berupa pembengkakan wajah, gatal-gatal hebat, atau kesulitan bernapas. Alergi jenis ini biasanya bertahan seumur hidup dan perlu kewaspadaan ekstra.
Jika anak menunjukkan gejala setelah makan makanan tertentu, misalnya ruam, muntah, atau sulit bernapas—jangan menunggu. Segera konsultasikan dengan dokter anak atau ahli alergi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
