Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 19.33 WIB

10 Frasa Orang Tua yang Mungkin Menggambarkan Trauma Belum Sembuh

Ilustrasi seorang anak yang tampak berpikir keras, mencerminkan dampak perkataan orang tua./Freepik - Image

Ilustrasi seorang anak yang tampak berpikir keras, mencerminkan dampak perkataan orang tua./Freepik

JawaPos.com - Beberapa luka emosional tidak berakhir pada orang yang mengalaminya. Luka ini sering diturunkan secara diam-diam dan tidak sadar, dari orang tua kepada anak. Penurunan ini tidak selalu melalui tindakan fisik.

Kadang-kadang, hal itu terjadi melalui kata-kata atau frasa yang diucapkan dalam kemarahan, stres, atau ketakutan.

Kata-kata tersebut mungkin terdengar seperti disiplin keras saat itu, tetapi meninggalkan bekas mendalam hingga kini. Melansir dari Geediting.com Sabtu (19/7), orang tua yang mengucapkan frasa ini biasanya bukanlah sosok buruk.

Mereka hanya lelah, kewalahan, dan masih terluka dari hal-hal yang belum sepenuhnya diproses. Tanpa disadari, sebagian rasa sakit itu diturunkan ke generasi berikutnya.

Jika Anda tumbuh dengan mendengar frasa ini, Anda mungkin dibesarkan oleh orang yang belum mendapatkan penyembuhan yang mereka butuhkan.

Berikut adalah 10 frasa yang mengindikasikan orang tua mungkin memiliki trauma belum sembuh:

  1. "Berhenti menangis sebelum aku memberimu alasan untuk menangis"

Frasa ini mengirim pesan bahwa emosi Anda adalah ancaman besar. Mengungkapkan kesedihan atau rasa sakit hanya akan memperburuk situasi. Orang tua yang mengucapkan ini mungkin tidak diizinkan menunjukkan emosi saat tumbuh dewasa.

  • "Karena aku bilang begitu—itu sebabnya"

  • Setiap orang tua pasti merasa lelah dan mencapai batasnya. Namun, saat frasa ini menjadi satu-satunya penjelasan, ini menandakan sesuatu yang lebih dalam. Ini adalah ketakutan kehilangan kendali.

  • "Kamu terlalu sensitif"

  • Frasa ini tidak mengajarkan ketahanan mental. Ini justru mengajarkan rasa malu mendalam. Saat seorang anak sering mendengar ini, mereka mulai percaya emosi mereka salah.

  • "Kenapa kamu tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?"

  • Perbandingan ini meninggalkan memar emosional yang tidak pernah pudar sepenuhnya. Perbandingan mungkin tampak tidak berbahaya bagi orang tua, tetapi bagi anak, itu terasa seperti penolakan halus. Orang tua yang sering mengatakan ini mungkin sering dibandingkan di masa kecilnya.

  • "Aku memberimu segalanya—kenapa kamu tidak bahagia?"

  • Editor: Hanny Suwindari
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore