
Sejumlah pengunjung melihat mobil listrik yang di pajang di Living World Alam Sutera, Tangerang Selatan, Rabu (13/11/2024). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Dalam beberapa tahun terakhir, industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Asia Pasifik telah melonjak. Tiongkok memimpin dalam penggunaan dan produksi.
Sementara Jepang unggul dalam penjualan hibrida, dan pasar India mulai menyusul. Di Indonesia, peralihan ke EV telah menunjukkan perkembangan positif.
Secara global, pasar EV mengalami pertumbuhan yang didorong meningkatnya kepedulian lingkungan, insentif pemerintah, dan kemajuan teknologi. Pasar utama, seperti Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat, memimpin dalam adopsi EV, dengan kebijakan kuat yang mendukung transisi ke mobilitas listrik.
Pada tahun 2030, banyak negara telah menetapkan target ambisius untuk menghapus Mesin Pembakaran Dalam (Internal Combustion Engines/ICE), yang semakin mendorong industri EV.
Menurut PwC Indonesia yang telah melakukan studi mengenai kesiapan kendaraan listrik Indonesia di 2024 untuk mempresentasikan kondisi adopsi EV saat ini, pendorong transformasi, tantangan, dan perspektif konsumen di berbagai segmen.
Sebagai bagian dari studi global di 27 wilayah, ini memungkinkan perbandingan antara Indonesia dan pasar lain di Asia Pasifik (APAC), Amerika Latin (LATAM), Amerika Utara (NA), Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA)
Studi ini mengidentifikasi tiga segmen responden di pasar: pemilik EV, prospek EV, dan skeptis EV. Dengan hanya 7% responden yang sudah memiliki EV, 93% sisanya terbagi antara 78% yang berniat membeli satu dalam lima tahun ke depan dan 15% yang tetap skeptis.
Selain itu, 60% responden pemilik EV adalah perempuan, 51% prospek EV adalah perempuan, dan 55% skeptis EV adalah laki-laki.
Dinamika ini menyoroti potensi pasar Indonesia yang belum terjamah, yang jika dimanfaatkan secara efektif, dapat menempatkan negara ini sebagai salah satu pemimpin di kawasan ini.
Selain itu, dengan sumber daya nikel melimpah yang merupakan bahan baku penting untuk baterai, Indonesia siap menjadi pemain kunci di pasar baterai EV, sehingga dapat menarik investasi dan pengembangan yang signifikan.
Hendra Lie, PwC Indonesia Automotive Leader, menyampaikan, Kamis (14/11) dengan menerapkan kebijakan strategis dan menawarkan insentif yang menarik.
Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan pengolahan nikel tetapi juga mendorong pertumbuhan manufaktur EV dan baterai domestik.
"Ini menempatkan Indonesia sebagai kontributor utama dalam pergeseran global menuju transportasi berkelanjutan," ujarnya.
Mobil EV Bekas
Temuan signifikan lainnya adalah bahwa pasar EV bekas di Indonesia masih dalam tahap awal. Berbeda dengan wilayah yang lebih berkembang, di mana EV bekas populer, hanya 20% pemilik saat ini di Indonesia yang tertarik membeli EV bekas.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
