Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Oktober 2025 | 19.43 WIB

Kontroversi Etanol di Indonesia: Antara Keberlanjutan dan Risiko pada Mesin Kendaraan

ILUSTRASI: Etanol. (Pixabay)

JawaPos.com-Dalam upaya menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, etanol kini menjadi salah satu alternatif energi yang banyak digunakan di berbagai negara. 

Di Indonesia, wacana penggunaan campuran bensin dan etanol (bioetanol) juga mulai mengemuka seiring dorongan menuju energi hijau dan berkelanjutan. Terlebih saat muncul kontroversi dugaan monopoli Pertamina terhadap SPBU swasta yang sedang mengemuka, memaksa mereka membeli BBM via Pertamina namun ternyata diketahui ada kandungan etanol pada BBM-nya.

Padahal perusahaan penyedia BBM swasta seperti BP, Vivo, dan Shell, sebelumnya meminta BBM jenis base fuel atau bahan bakar dasar. Tanpa campuran.

Ditambah, topik soal etanol mengemuka saat pemerintah malah mencanangkan seluruh BBM di Indonesia dicampur oleh 10 persen etanol. Hal tersebut dilontarkan oleh Kementerian ESDM.

Jadilah kontroversi. Di balik potensi lingkungan yang menjanjikan, penggunaan etanol dalam bahan bakar kendaraan masih menimbulkan pro dan kontra, terutama terkait dampaknya terhadap performa mesin dan umur kendaraan.

Keunggulan Etanol: Ramah Lingkungan dan Lebih Efisien

Mengutip berbagai sumber seperti How Stuff Works, Car From Japan dan sumber lainnya, memang ada dampak baik dan buruk pada penggunaan etanol. Misal, secara teknis, etanol memiliki angka oktan lebih tinggi dibanding bensin biasa. 

Artinya, bahan bakar ini mampu meningkatkan efisiensi pembakaran dan performa mesin, selama digunakan pada kendaraan yang dirancang untuknya.

Selain itu, etanol berperan sebagai oksigenat alami dalam proses pembakaran. Hal ini membuat gas buang kendaraan lebih bersih dan membantu pabrikan memenuhi standar emisi yang semakin ketat.

Tak kalah penting, etanol merupakan bahan bakar terbarukan yang berasal dari tanaman seperti tebu, jagung, atau singkong. Sumber daya ini membuat etanol dinilai lebih sustainable dibanding bensin berbasis minyak bumi.

Risiko Etanol: Tidak Cocok untuk Semua Mesin

Meski menawarkan banyak manfaat, etanol bukan tanpa kelemahan. Kandungan energi per liter etanol lebih rendah dibanding bensin, sehingga kendaraan cenderung mengalami penurunan efisiensi bahan bakar atau konsumsi BBM yang lebih boros.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore