JawaPos.com - Bukan rahasia lagi kalau mobil dengan transmisi otomatis atau matic saat ini sangat diminati oleh masyarakat. Hal tersebut tentu berkaitan dengan kepraktisan berkendara serta pengoperasian, tidak menguras tenaga terutama saat melintasi jalanan yang macet.
Secara umum, saat ini transmisi otomatis yang umum ada dipasaran terbagi menjadi dua jenis yaitu matic konvensional atau AT dengan matic CVT. Meski keduanya sama-sama transmisi otomatis, tapi memiliki perbedaan.
Perbedaannya terletak pada bagian dalam dari gearbox tersebut. Karena cara kerjanya yang berbeda, kebutuhan akan perawatannya juga berbeda, termasuk dalam penggunaan pelumas atau olinya.
Hal ini perlu diketahui masyarakat, Anda para pemilik mobil matic, minimal tahu bahwa oli matic CVT dengan oli matic konvensional berbeda. Jadi nggak bisa asal dipakai satu dan lainnya, harus sesuai peruntukannya.
Mengutip laman Evalube, pada transmisi CVT menggunakan rantai untuk membuat mobil bisa berjalan serta memiliki perpindahan gigi yang sangat halus. Selain itu pada pada transmisi matik konvensional lebih sederhana. Tak terdapat chips elektronik yang terendam oli. Sedangkan di dalam transmisi CVT terdapat chip electronic.
Sementara terkait penggunaan olinya, menurut Domotransmisi, perbedaan oli CVT dan matic konvensional terletak pada komposisi yang berbeda. Transmisi matic AT atau dikenal juga dengan ATF terdiri dari campuran pelumas dasar dengan aditif khusus yang dirancang untuk transmisi otomatis konvensional.
Sementara itu, CVT menggunakan bahan dasar yang berbeda, seperti minyak sintetis dan pelarut untuk menjaga kekentalannya pada suhu rendah. CVT memiliki aditif yang khusus dirancang untuk mengurangi keausan pada sabuk atau rantai.
Hal ini memastikan bahwa CVT dapat mempertahankan efisiensi yang lebih tinggi daripada ATF. Selain itu, CVT juga lebih ramah lingkungan karena komposisinya yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan ATF.
Perbedaan oli CVT dan ATF juga ada pada penggunaan teknologi yang berbeda. ATF digunakan pada transmisi otomatis konvensional dengan beberapa gigi yang berganti secara otomatis tergantung pada kecepatan kendaraan.
Sedangkan CVT menggunakan teknologi sabuk atau rantai yang dapat berubah ukuran dan mengoptimalkan rasio gigi secara kontinu. Ini memungkinkan CVT untuk menyesuaikan rasio gigi dengan kecepatan kendaraan secara lebih presisi dan efisien.
Oleh karena itu, kendaraan dengan CVT cenderung lebih halus dan efisien dalam perpindahan gigi, dan menghasilkan sedikit getaran saat kendaraan melaju. Perbedaan oli CVT dan ATF juga ada pada performa yang berbeda, tergantung pada jenis kendaraan yang digunakan.
Transmisi matic konvensional lebih cocok untuk memberikan kinerja yang baik pada kendaraan yang sering menangani beban berat atau jalan menanjak. Sedangkan CVT ideal untuk kendaraan yang menempuh perjalanan jarak jauh dan sering mengalami situasi berhenti-start.
Kendaraan dengan CVT dapat mempertahankan efisiensi yang lebih tinggi pada kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan ATF.
Perbedaan terakhir adalah nilai viskositas atau kekenyalannya, juga menjadi satu poin perbedaan oli transmisi CVT dan AT. Oli transmisi AT lebih kental dibandingkan dengan CVT karena digunakan untuk menahan panas yang dihasilkan dari gesekan bagian dalam transmisi.
Sementara CVT memiliki viskositas yang lebih tipis atau encer dan lebih stabil pada suhu rendah. Ini penting karena CVT digunakan pada kendaraan dengan teknologi yang lebih canggih, sehingga perlu mempertahankan kestabilan pada suhu rendah agar tetap efisien.
Selain itu, viskositas yang lebih encer pada CVT juga membantu memperpanjang masa pakai sabuk atau rantai yang digunakan dalam transmisi.