JawaPos.com - Elektrifikasi kendaraan di Indonesia, khususnya mobil masih terpecah pada dua arah, hybrid atau full Electric Vehicle (EV) dengan baterai sebagai suplai energi utamanya. Baik mobil hybrid dan full BEV atau Battery Electric Vehicle sendiri punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Untuk BEV sendiri saat ini didorong oleh mayoritas merek-merek bukan berasal dari pabrikan Jepang, misalnya Korea, Tiongkok dan Eropa. Meski penetrasi BEV di Indonesia sendiri bisa terlihat perkembangannya, data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo berkata lain.
Dalam catatannya, Gaikindo mengungkapkan bahwa untuk mobil berbasis elektrifikasi di Indonesia, masyarakat cenderung memilih hybrid. Hal ini bisa dilihat dari data bertajuk 'Indonesia Market ICE & Non ICE 2019 - YTD JUNE 2024' dari Gaikindo.
Hybrid sendiri masih terbagi atas dua jenis, yakni Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plugin Hybrid EV atau PHEV. Berdasarkan data dari Gaikindo, penjualan mobil hybrid di Indonesia lebih menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk Hybrid berjenis HEV, angka penjualan pada 2019 tercatat hanya 787 unit saja. Hingga pada 2020, 2021 dan 2022, angkanya naik signifikan dari 1.191 unit, 2.472 unit sampai 10.344 unit di 2022. Naik tajam dari 2021 ke 2022.
Dari 2022 sampai 2024 juga demikian, melonjak siginifikan. Misalnya pada 2023, HEV di Indonesia mencatat angka wholesale di 54.179 unit. Dan hingga Juni 2024 ini, HEV sudah terjual sebanyak 25.807 unit.
Untuk PHEV trennya berbeda. Pada 2019, angka wholesale berada di 25 unit saja, sementara pada 2020 menurun ke delapan unit saja. Dari 2021 sampai 2023, angkanya ada kenaikan, tapi nggak banyak yakni 46 unit, turun ke 10 unit dan naik ke 128 unit di 2023.
Untuk BEV, trennya juga ada kenaikan, namun cenderung fluktuatif. Dimulai pada 2019 nol pengiriman, dan di 2020 lalu hanya tercatat 125 unit saja. Pada 2021 dan 2022, tercatat lonjakan dari 687 unit ke 10.327 unit.
Puncaknya ada di 2023 dengan angka sebesar 17.051 unit. Sementara di 2024, hingga Juni ini, pengiriman mobil listrik BEV baru tercatat di angka 11.938 saja.
Terkait mobil hybrid, sebelumnya di arena GIIAS 2024 yang lalu, Ketua umum Gaikindo Yohanes Nangoi memprediksi populasi mobil hybrid (gabungan bensin dan listrik) akan meningkat mencapai 70.000 unit hingga akhir 2024 dari saat ini 32.000 unit. Sementara penjualan mobil listrik penuh atau battery electric vehicle (BEV) diprediksi 30.000 unit.
“Kemungkinan mobil hybrid pada akhir tahun bisa mencapai sekitar 65.000 hingga 70.000 unit, berarti ada peningkatan lagi,” kata dia pada penutupan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (27/7) lalu. (*)