Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 September 2019 | 03.59 WIB

Begini Cara Aman Mengendalikan Mobil saat Mengalami Pecah Ban

ILUSTRASI Pecah ban saat kecepatan tinggi. (Chaliklaw). - Image

ILUSTRASI Pecah ban saat kecepatan tinggi. (Chaliklaw).

JawaPos.com - Kasus pecah ban mobil yang sampai menyebabkan kecelakaan fatal belakangan banyak terjadi. Pecah ban mobil menjadi salah satu faktor utama kecelakaan. Saat melaju dengan kecepatan tinggi, mobil yang mengalami pecah ban bisa terbalik.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana menyebut, terbaliknya mobil saat pecah ban dikarenakan pengemudi panik. Pengemudi yang panik ini bisa reaktif dan mengambil keputusan salah dan berakibat fatal, seperti menginjak rem.

"Pecah ban berakibat mobil terbalik, adalah kejadian di jalan raya dan umumnya terjadi pada kecepatan tinggi. Kejadiannya sepersekian detik, tidak terduga kapan terjadinya," ujar Sony saat dihubungi JawaPos.com pada Rabu (18/9) sore.

Menginjak rem saat mobil melaju kecepatan dengan kecepatan tinggi mengalami pecah ban adalah tindakan yang harus dihindari. Namun, Sony memahami reaksi ini dikarenakan pengemudi berharap mobil secepatnya berhenti dari masalah selip akibat pecah ban. "Itu salah," ungkapnya.

Sony menyarankan agar pengemudi tidak panik ketika mengalami pecah ban. Dengan begitu, pengemudi bisa berpikir jernih untuk mengambil langkah-langkah.

Pertama yang harus diketahui ketika pecah ban yakni arah mobil akan berubah mengarah ke bagian yang bannya pecah. Maka dari itu, langkah yang harus ditempuh yakni mengupayakan agar mobil tetap lurus ke depan. Ini juga dimaksudkan menghindari mobil terbalik (roll over).

Kedua, jangan menginjak rem. Menginjak rem saat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi mengalami pecah ban dapat berakibat fatal. Mobil terbaik.

"Karena terjadi cengkeraman yang tidak seimbang antara bagian ban yang pecah dengan ban yang masih normal," tutur Sony.

Mobil yang mengalami pecah ban akan lebih berat. Jika ditambah rem, maka efeknya mobil akan selip berlebihan dan kehilangan keseimbangan.

Ketiga, menjaga kecepatan mobil dengan tidak menginjak atau menahan pedal gas. Menginjak atau menahan pedal gas akan membuat kendaraan menjadi liar karena kecepatan kendaraan tidak berkurang.

"Ingat! Ini kondisi sepersekian detik dan umumnya pengemudi tidak siap," tegas Sony.

Selanjutnya, biarkan mobil tetap melaju sembari berkonsentrasi pada kemudi. Jangan juga menginjak pedal kopling karena akan menghilangkan fungsi engine brake sebagai unsur yang bisa memperlambat laju kendaraan secara alami.

"Jangan juga menurunkan gear atau gigi kendaraan ke gigi rendah. Karena sudah ada fungsi engine brake yang melakukan perlambatan secara gradual (aman). Lebih baik fokus menyeimbangkan kendaraan ke jalurnya saja," sebut pria berkacamata itu.

Sony menyebut, hal-hal terkait pecah ban di atas berlaku untuk semua mobil, baik dengan transmisi manual maupun otomatis. Selanjutnya, pengemudi yang sudah melakukan hal-hal di atas juga wajib mempersiapkan diri untuk hal-hal tak terduga.

Photo

ILUSTRASI Kecelakaan mobil. (dok. RTE)

Driving Defensive

Masih terkait situasi darurat di jalan raya. Yang perlu diketahui para pengguna jalan selain keterampilan mengemudi (driving skill) adalah driving defensive. Driving defensive sendiri adalah perilaku yang baik dan benar saat mengemudi terlebih dalam menghadapi situasi tak terduga di jalan raya.

Ilmu ini mengedepankan sifat proaktif dalam mengemudi. Sony memaparkan, driving defensive adalah pola perilaku mengemudi yang jarang diketahui pengguna kendaraan. Terkait driving defensive, ada hal-hal yang perlu diperhatikan yakni menjaga kecepatan di batas aman, menjaga jarak aman antar kendaraan, commentary driving, menjaga kontak mata dan selalu mempersiapkan jalan keluar atau antisipasi yang aman saat menghadapi situasi darurat.

Menurut Sony ini adalah hal mudah tapi jarang diilakukan. Commentary driving adalah mengemudi sambil berbicara atau berpikir, membaca potensi bahaya selama di jalan. Sikap demikian artinya mengartikan obyek dalam bentuk visual ke dalam verbal atau kata-kata. Atau menggambar situasi yang akan terjadi atas pola mengemudi. Tujuannya agar pengemudi lebih fokus dan waspada.

"Kalau terimbas tabrakan akibat mobil lain, itu karena pengemudi tersebut masih mengandalkan sikap reaktif, kemungkinan selamat sedikit. Ubah cara mengemudi dengan driving defensive. Kapan? Dari mulai engine on sampai dengan engine off," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore