Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Mei 2026 | 22.28 WIB

Wamenkomdigi Soroti Ancaman Algoritma: Fakta Kalah oleh Sentimen

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. (Didik Setiawan/ Pewarta Foto Indonesia) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. (Didik Setiawan/ Pewarta Foto Indonesia)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti tantangan baru yang dihadapi generasi muda di era digital, yakni pengaruh algoritma yang dinilai mampu membentuk pola pikir, perilaku, hingga cara masyarakat memandang suatu isu.

Nezar mengatakan kehidupan masyarakat kini sangat dipengaruhi platform digital dan sistem algoritma media sosial.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” kata Nezar di Jakarta, dikutip Senin (25/5).

Ia menilai situasi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius karena membuat masyarakat semakin sulit memilah fakta, opini, maupun informasi yang dimanipulasi. Menurutnya, kondisi itu juga dapat memperkuat polarisasi sosial dan menurunkan kemampuan berpikir kritis, khususnya di kalangan anak muda.

Nezar turut menyinggung laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman global terbesar pada 2026, bahkan dianggap lebih mengkhawatirkan dibanding sejumlah persoalan geopolitik.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Selain itu, Nezar juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang berlangsung sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika. Ia menyebut persaingan global kini tidak lagi hanya berkaitan dengan sumber daya alam, melainkan perebutan penguasaan data, teknologi komputasi, semikonduktor, dan sumber daya manusia digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar karena didukung bonus demografi dan cadangan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi dunia. Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan maksimal tanpa kualitas SDM yang mampu menguasai bidang sains dan teknologi.

Karena itu, Nezar mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics) sekaligus memperkuat literasi digital agar tidak mudah terpengaruh manipulasi algoritma.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore