
Pengamat ekonomi internasional Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal. (Dok. Pribadi)
DALAM pembahasan restrukturisasi kabinet, ada wacana bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan dilebur, khususnya terkait fungsi pengembanganekspor. Pengamat ekonomi internasional menilai hal tersebut positif karena kerja sama perdagangan berkaitan erat dengan hubungan baik antarnegara. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agfi Sagittian dengan pengamat ekonomi internasional Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal kemarin (20/8).
---
Apa pendapat Anda soal rencana pemerintah menggabungkan Kemenlu dengan Kemendag mengenai tugas pengembangan ekspor?
Saya rasa itu sangat baik. Sebab, selama ini, dalam konteks perundingan internasional, Kemenlu menjadi salah satu ujung tombak. Namun, sering kali Kemenlu kehilangan konteks ekonomi. Mereka lebih dominan ke politik. Memang mereka sudah melakukan promosi dagang, tapi dari sisi pengayaan tentu sangat terbatas. Sehingga penggabungan tersebut membuat diplomasi ekonomi menjadi lebih baik.
Lantas bagaimana memisahkannya, mengingat di Kemendag sendiri terdapat Direktorat Perdagangan Luar Negeri?
Itu hanya masalah teknis. Seharusnya, jika memang sudah ada penggabungan nantinya, terkait perdagangan internasional bisa diserahkan kepada badan atau divisi yang baru. Dengan begitu, Kemendag juga bisa lebih fokus mengurusi perdagangan dalam negeri. Kita berharap kondisi tersebut bisa meningkatkan angka ekspor kita.
Apa catatannya supaya tim baru nanti dapat lebih efektif dalam melakukan promosi dagang?
Selama ini masih cenderung lebih banyak birokrat yang terlibat dalam pertemuan dengan negara lain. Akan menjadi sangat baik jika melibatkan lebih banyak profesional. Sering kali perwakilan perundingan dagang kita hanya berbekal data yang sangat minimal. Itu yang membuat kita sering kalah dalam perundingan dagang. Karena mereka lebih tahu tentang data kita dibanding sebaliknya. Kita berharap masalah itu tidak terulang.
Seberapa efektif untuk memprediksi penggabungan fungsi tersebut?
Dalam konteks penggabungan ini saya rasa cukup relevan. Sebab, kita punya KBRI di tiap negara di bawah Kemenlu. KBRI memang sudah seharusnya bisa menjalankan fungsi market intelligence. Sehingga kita bisa dibekali data yang cukup saat akan melakukan promosi atau perundingan dagang dengan sebuah negara.
Apa urgensi memiliki tim negosiator yang kuat terkait perdagangan internasional?
Melihat kondisi ekonomi global saat ini, tentu sangat penting. Pertama, dari sisi trade deficit, kita sudah semakin lebar. Salah satu upaya untuk mengantisipasi adalah membuka pasar baru. Kita harus push untuk mencari partner-partner dagang internasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022