
xVISIONER: Johan Silas menegaskan bahwa kampung adalah identitas Surabaya. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Prof Dr Ir Johan Silas mendirikan Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 1965. Kendati kini telah purnatugas, sumbangsih tokoh 83 tahun itu untuk arsitektur Indonesia terus berlanjut. Pekan lalu, Jawa Pos berbincang dengan pria kelahiran Samarinda tersebut soal legacy-nya untuk Kota Surabaya.
---
Bagaimana kabarnya, Prof?
Seperti biasa, kabar baik.
Prof Johan tetap terlihat bugar sampai sekarang. Boleh bagi rahasianya?
Kalau di kampus, saya biasa naik turun tangga. Tidak lewat lift. Mungkin karena itu. Hahaha...
Saat ini kesibukan sehari-harinya apa saja?
Saya masih mengajar. Tiga mata kuliah di Darma Cendika (Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Red) yang terkait perumahan, kota, dan lingkungan. Kalau di S-3, tentang filsafat ilmu. Di ITS saya mengisi kuliah tamu jenjang S-1, S-2, dan S-3.
Apa yang memotivasi Prof Johan sehingga masih terus mengajar?
Kalau saya mengajar, ilmunya akan disimpan di benak mahasiswa dan terus mereka bawa. Beda dengan seminar. Kalau seminar ya selesai saat itu juga.
Apa kesibukan Prof Johan selain mengajar?
Saya masih di tim ahli cagar budaya Pemkot Surabaya. Kalau ada rapat-rapat terkait perkotaan, saya juga masih diajak. Kalau untuk kemajuan kota (Surabaya, Red), ya wes lah. Di sela-sela itu, saya sedang membuat catatan-catatan tentang pengalaman saya.
Apa saja pengalaman Prof Johan yang menarik? Bisa diceritakan?
Salah satu yang mengesankan adalah ketika saya menghadiri forum PBB mewakili Indonesia. Nama programnya Kerja Sama Selatan-Selatan. Acaranya di New York, Amerika Serikat. Dalam acara seperti itu, saya belajar tentang perilaku dan tata krama forum internasional karena saya menjadi delegasi resmi.
Dulu Prof Johan sering sekali muncul dalam seminar. Sekarang bagaimana?
Saya sudah mengurangi jadi pembicara di berbagai seminar dan forum. Saya kira sudah cukup lah. Gantian yang muda saja. Sekarang konsentrasi utama memberi kuliah untuk mahasiswa. Ngajar saja. Ibarat teknologi telekomunikasi, dulu jaringan masih 3G, sekarang sudah 6G. Nggak cocok.
Sebagai tokoh arsitektur yang concern terhadap tata kota, apa yang pernah Prof Johan rancang untuk Surabaya?
Pada 1973, Pak Soekotjo, wali kota Surabaya saat itu, meminta saya menyusun strategi pengembangan kota. Saat itu ada investor Hongkong yang mau bangun real estate. Saya pikir pengembangan ke utara nggak mungkin. Kawasan timur dan selatan juga tidak bisa. Yang bisa dikembangkan adalah Surabaya Barat. Sejak itu, strategi pembangunan Surabaya didorong ke barat. Pengembangan kawasan selatan baru setelah tahun 2000. Itu cara supaya kawasan kampung tidak terusik. Kalau tidak begitu, kampung-kampung heritage di tengah kota bisa ’’dimakan’’ (pembangunan) juga. Padahal, itu bagian dari identitas Surabaya.
Seperti apa keterlibatan Prof Johan menyusun masterplan Surabaya?
Tim masterplan dibentuk pada 1968. Semua bonek. Ada yang dari teknik sipil, ekonomi, sosial budaya. Tidak ada yang latar belakangnya planologi. Saya sendiri yang arsitek. Kerangka dasar masterplan dibikin 1970, selesai pada 1973. Karena ada penyempurnaan di sana-sini, baru disahkan pada 1978.
Apa capaian yang paling menonjol dari masterplan itu?
Surabaya menjadi acuan model kota di dunia yang pembangunan kotanya tumbuh tapi masyarakatnya juga ikut maju. Kampungnya maju. Waktu menyusun masterplan, saya memastikan bahwa kampung sebagai kekhasan Surabaya harus dilindungi. Bersanding dengan kemajuan kota. Keberhasilan itu diakui PBB.
Apa lagi yang menarik?
Saya kira perencanaan tata kota Surabaya cukup matang. Kelebihannya, semua kampus di Surabaya ada di dalam kota. Tidak ada yang di luar kota. Di Jogjakarta, Bandung, Semarang, atau Denpasar, kampusnya tersebar hingga ke luar kota.
PROF DR IR JOHAN SILAS
- Lahir pada 24 Mei 1936
- Meraih gelar sebagai guru besar pada 1992
KIPRAH DAN KARYA
- Pendiri Jurusan Teknik Arsitektur ITS (1965)
- Tim penyusun masterplan Surabaya pada 1973
- Kepala laboratorium ITS (1980-an)
- Tokoh Program Perbaikan Kampung atau Kampung Improvement Program (KIP)
- Tim rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa bumi dan tsunami Aceh (2005–2006)
PENGHARGAAN
- Habitat Scroll of Honour dari UN-Habitat (atas prestasinya dalam pengembangan tata kota)
- Balugu Samaeri Ono Niha (gelar kehormatan dari masyarakat adat Nias Selatan atas jasanya membangun kembali rumah adat dan rumah warga yang rusak akibat gempa)
SUMBER: DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
