alexametrics

Cuma Sensi dan Rindu

Catatan LEAK KUSTIYO (6)
30 Mei 2020, 12:10:18 WIB

TENAGA satpol PP terbatas, jumlah personel juga terbatas, termasuk pentungannya. Kaki wali kota juga cuma dua. Terhitung sudah hampir 10 tahun terus dipakai jalan keliling tanpa henti ke semua sudut kota, mengurus Surabaya. Andai, kaki kiri bisa di-split untuk mengikuti Risma bekerja dan kaki kanan bisa disuruh jalan sendiri, pasti diberi tugas entah apa lagi untuk benah-benah lainnya.

Empat bulan ini, pekerjaan wali kota berlipat-lipat beratnya. Melihat laporan pertambahan pasien positif. Mencari ruangan untuk merawat pasien yang terus penuh. Belum, bagaimana kalau Keputih dan Peneleh –dua-duanya adalah tempat makam– juga ikutan penuh?

Makam penuh itu seratus persen urusan wali kota. Tapi, warga wajib ikut memikirkannya. Tak kunjung menaati anjuran wali kota hanya akan mempercepat penuhnya dua tempat itu.

Petugas kepolisian bisa dihitung jumlahnya dan sudah berbulan-bulan dikerahkan di pos jaga. Untung ada TikTok, pak polisi masih bisa megal-megol pecutat-pecutut, lalu di-upload untuk hapus kesumpekan.

Gubernur sudah tak mengenal lagi jam kerja ala kantor pemerintah pada umumnya, bahkan jauh hari sebelum ada pandemi. Bangunan bergaya kolonial di samping Tugu Pahlawan, tempat gubernur bekerja sehari-hari itu, etosnya meniru model Indonesia sebelum merdeka. Hampir tiap hari, tim inti baru boleh pulang ke rumah ketika menjelang tengah malam. Istri-istri kepala dinas Pemprov Jatim dikumpulkan, di-warning: Suamimu jam kerjanya 24 jam, handphone tidak boleh dimatikan. Ingin bentuk ketidaknormalan seperti apa lagi?

Tim medis rumah sakit rujukan Covid sudah tiga bulan lebih bekerja sif-sif-an nonstop tanpa kenal lelah. Jumlah dokter dan perawat berkurang, tapi semangat tidak. Mereka tahu, berjuang di ruang perawatan Covid, bukan hanya keringat taruhannya. Nyawa.

Dalam perusahaan, apakah kerja keras yang sudah habis-habisan dilakukan itu hasilnya sudah oke atau belum, lihat bottom line-nya. Jurnal akuntansi mengalkulasi antara keringat dan hasil yang dicapai. Kalau angkanya sama, artinya pakpuk, kata orang Surabaya.

Komitmen untuk menyelamatkan banyak nyawa seperti yang dilakukan tim medis, gubernur, dan wali kota ini sudah tak bisa ditimbang dengan semacam jurnal laba rugi.

Yang tanda-tandanya ndrawasi justru munculnya gejala penyakit bawaan rakyat, yaitu romantisme. Setelah tiga kali PSBB, mereka mengeluh bosan di rumah dan mulai banyak yang jatuh rindu. Rindu pada hasil! Kenapa tak kunjung kelihatan… (*)


*) LEAK KUSTIYO, direktur utama Jawa Pos Koran

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads