
I Gusti Ngurah Krisna Dana, Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Warmadewa. (Istimewa).
INDONESIA rasanya tidak pantas kekurangan air. Kita hidup di negara tropis, menerima hujan hampir sepanjang tahun, memiliki ribuan sungai, danau, mata air, serta cadangan air tanah. Namun, justru di situlah paradoksnya.
Saat musim hujan, kita sibuk menghadapi banjir. Beberapa bulan kemudian, kita mulai bicara tentang kekeringan, sumur yang menurun, sawah yang kekurangan air, atau warga yang harus mencari sumber air lain.
Barangkali persoalan kita memang bukan tidak memiliki air. Persoalannya adalah apakah air yang kita miliki masih cukup, bersih, mudah diakses, dan mampu terus tersedia untuk generasi berikutnya.
Ketika “Tabungan Air” Mulai Terkuras
Pada Januari 2026, United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperingatkan dunia tentang sesuatu yang disebut global water bankruptcy atau kebangkrutan air global. Istilahnya memang terdengar dramatis. Namun, logikanya sederhana: air terus diambil lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali.
Bayangkan seperti rekening bank. Hujan adalah pemasukan tahunan. Air tanah, danau, rawa, dan ekosistem penyangga adalah tabungan. Selama ini kita tidak hanya menggunakan “pendapatan”, tetapi perlahan juga mengambil “tabungan”.
Masalah muncul ketika tabungan itu terus berkurang dan sulit dipulihkan. UNU mencatat hampir 4 miliar orang di dunia mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan dalam setahun. Sekitar 2,2 miliar orang juga belum memperoleh layanan air minum yang dikelola secara aman. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan lagi isu jauh di masa depan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Tentu terlalu berlebihan jika langsung mengatakan Indonesia sudah bangkrut air. Kondisi Kalimantan berbeda dengan Jawa. Papua tentu tidak sama dengan Bali atau Nusa Tenggara. Tetapi sejumlah tanda sudah cukup untuk membuat kita waspada.
Air Melimpah, Tekanan Meningkat
World Resources Institute pada 2025 menggambarkan persoalan air Indonesia dengan cukup menarik: pada satu waktu kita mengalami terlalu banyak air, pada waktu lain terlalu sedikit, dan pada tempat tertentu air tersedia tetapi terlalu tercemar untuk digunakan.
Bank Dunia bersama Bappenas juga memperkirakan permintaan air Indonesia akan meningkat sekitar 31 persen antara 2015 dan 2045. Lebih dari itu, sekitar separuh produk domestik bruto Indonesia dihasilkan di daerah aliran sungai yang mengalami tekanan air tinggi atau berat pada musim kemarau.
Di titik ini, air seharusnya tidak lagi dianggap hanya sebagai urusan lingkungan hidup. Air adalah urusan ekonomi.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
