Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Juni 2026 | 18.03 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000: Ketika Pasar Sedang Menguji Kredibilitas Ekonomi Indonesia

Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.(Istimewa). - Image

Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.(Istimewa).

Oleh: Dr. Listya Endang Artiani S.E.,M.SI, Akademisi dan Pakar Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Pasar keuangan sering kali berbicara lebih jujur daripada pidato para pejabat. Ketika rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, pasar sesungguhnya sedang menyampaikan sebuah pesan penting bahwa kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia sedang benar-benar diuji. Nilai tukar bukan sekadar angka yang bergerak di layar perdagangan, namun ia merupakan refleksi kolektif dari ekspektasi investor, pelaku usaha, dan pasar global terhadap kondisi ekonomi suatu negara.

Data perdagangan menunjukkan bahwa pada 4 Juni 2026 rupiah melemah hingga mencapai Rp 18.040 per dolar AS. Angka tersebut bukan hanya menembus batas psikologis penting, tetapi juga menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah nilai tukar Indonesia pasca-pandemi. Bagi sebagian kalangan pelemahan ini dianggap sebagai konsekuensi alami dari penguatan dolar AS secara global, tapi jika dicermati lebih dalam persoalan yang terjadi tidak sesederhana itu.

Memang benar bahwa dolar AS sedang berada dalam tren penguatan, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi membuat aset-aset keuangan di negara tersebut semakin menarik bagi investor global. Yield obligasi pemerintah AS yang meningkat mendorong arus modal internasional kembali ke pasar keuangan Amerika. Fenomena ini dalam literatur ekonomi dikenal sebagai flight to quality, yaitu kecenderungan investor memindahkan dana dari aset yang dianggap berisiko menuju aset yang lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.

Namun pertanyaannya, mengapa tekanan terhadap rupiah terlihat lebih besar dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya? Jawabannya terletak pada persepsi risiko yang melekat pada perekonomian domestik. Dalam dunia investasi modern, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu cukup untuk menarik modal. Investor tidak hanya membeli potensi keuntungan, tetapi juga membeli kepastian.

Indonesia sebenarnya masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi, berbagai proyek pembangunan dan investasi hilirisasi juga terus berjalan. Akan tetapi pasar keuangan tidak hanya melihat angka pertumbuhan, pasar juga memperhatikan kualitas institusi, konsistensi kebijakan, keberlanjutan fiskal, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Pemikiran ekonom kelembagaan Douglass North menjelaskan bahwa institusi yang kuat menciptakan kepastian sehingga mampu menurunkan biaya transaksi dan meningkatkan kepercayaan pelaku ekonomi. Sebaliknya, ketika muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan, investor akan memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam setiap keputusan investasinya. Akibatnya, tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar menjadi semakin besar.

Dalam beberapa bulan terakhir, investor global menghadapi berbagai sumber ketidakpastian dan ketegangan geopolitik dunia belum sepenuhnya mereda. Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih berlangsung dan harga komoditas dunia bergerak fluktuatif. Pada saat yang sama, pasar juga mulai mencermati berbagai risiko domestik, mulai dari kebutuhan pembiayaan fiskal, prospek defisit anggaran, hingga keberlanjutan berbagai program pembangunan yang membutuhkan dana besar.

Situasi tersebut membuat investor melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko investasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika risiko meningkat sementara imbal hasil dianggap belum cukup menarik, maka arus modal cenderung keluar. Sehingga, tekanan yang semakin besar terhadap rupiah pun menjadi sulit dihindari.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore