
ABDUL ROKHIM
HERI, seorang prajurit, menyelesaikan pelatihan keras terjun payungnya. Dia menanti dengan sabar untuk menerima lencana penerjun yang sangat didambakannya. Akhirnya, saat itu tiba. Pada hari penahbisan, komandan berdiri di depannya, meletakkan lencana di dadanya, menekan dengan sangat keras sehingga menusuk dagingnya. Sejak saat itu, di setiap kesempatan, Heri membuka kancing teratas kemejanya untuk menunjukkan bekas luka kecil itu.
Rudi, seorang karyawan swasta, membeli sepeda motor Harley-Davidson yang sudah berkarat. Setiap akhir pekan dan hari libur, dia merawat dengan teliti sepeda motornya. Ironisnya, pada saat yang sama, pernikahan Rudi mendekati kehancuran. Perjuangannya merawat motor gede (moge) itu berat, tapi semua terbayar saat Harley-Davidson kesayangannya itu siap diajak jalan-jalan dan berkilau di bawah sinar matahari.
Dua tahun kemudian, Rudi benar-benar membutuhkan uang. Dia menjual semua miliknya, mulai TV, mobil, bahkan rumah. Tapi, tidak sepeda motor Harley-nya. Bahkan ketika seorang peminat menawar dua kali lipat dari nilai sebenarnya, Rudi tidak menjualnya.
Heri dan Rudi adalah korban dari derita yang melenakan. Upaya keras membuat penilaian mereka menjadi tak objektif lagi. Ketika Anda menyalurkan banyak energi ke dalam pekerjaan, Anda cenderung menilai hasilnya terlalu tinggi. Kesakitan fisik yang ditanggung Heri membuat lencana parasut itu lebih cemerlang daripada semua penghargaannya yang lain. Dan karena Harley, Rudi kehilangan terlalu banyak waktu dan hampir juga istrinya. Rudi menilai motor itu sangat tinggi sehingga dia tidak akan pernah menjualnya.
Manipulasi derita adalah kasus istimewa. Semua terjadi tanpa disadari dan sulit untuk dicegah. Namun, itu tidak berarti tidak ada manfaatnya. Banyak kelompok menggunakan manipulasi derita untuk mengikat anggota. Caranya beragam, namun biasanya melalui ritual inisiasi (penerimaan anggota baru).
Kelompok hobi, perguruan silat, geng komunitas, hingga kelompok kegiatan atau jurusan kuliah mahasiswa menerima anggota baru dengan memaksa mereka bertahan dalam ritual inisiasi yang menyengsarakan, bahkan kejam. Penelitian membuktikan bahwa semakin berat untuk lolos ”ujian masuk’’ semakin besar kebanggaan orang yang mengikutinya dan makin tinggi juga nilai keanggotaannya.
Manipulasi penderitaan tak selamanya berdampak buruk. Produsen yang pintar justru memanfaatkannya. Lihatlah yang dilakukan oleh produser furnitur dan kerajinan tangan asal Swedia, IKEA. Mebel yang kita pasang sendiri sepertinya terasa lebih berharga dibandingkan dengan karya desainer mahal mana pun.
Hal yang sama berlaku untuk kaus kaki rajutan tangan. Membuang sepasang kaus kaki buatan tangan dari bahan yang dibeli di IKEA, bahkan ketika terlihat kotor dan ketinggalan zaman, sangat sulit dilakukan.
Jika IKEA memanfaatkan, tak sedikit juga perusahaan yang terjebak dalam manipulasi derita. Manajer yang menghabiskan berminggu-minggu kerja keras membuat sebuah proposal strategi tidak akan mampu menilai hasil strategi secara objektif. Bahkan jika penilaian bias itu meluas ke investor dan pemegang saham, semakin banyak yang menjadi korban. Strategi salah yang sudah diberi investasi miliaran, apalagi sudah dijalankan dan diketahui pasar dan pesaing, semakin susah untuk dibatalkan sehingga menimbulkan kerusakan kinerja yang parah.
Pada 1990-an, setelah riset bertahun-tahun, campuran nasi instan diperkenalkan. Di negeri orang belum merasa makan sebelum makan nasi, produk nasi instan pasti akan sukses, pikir tim marketing. Ternyata, hasilnya jauh sekali: Ibu rumah tangga segera membenci produk itu karena membuat segala sesuatu jadi lebih mudah. Perusahaan pun bereaksi dan membuat persiapannya menjadi sedikit lebih sulit (mencampurkan sendiri bahan-bahan yang memberi rasa nasi).
Usaha tambahan itu meningkatkan rasa pencapaian, dengan demikian, penghargaan mereka terhadap makanan instan sehingga laku terjual.
Sekarang setelah memahami manipulasi derita, Anda dapat menilai proyek atau pekerjaan Anda dengan lebih objektif. Cobalah: Setiap kali Anda menginvestasikan waktu, usaha, dan dana yang besar ke dalam sesuatu, ambil jarak dan pelajari hasilnya. Hanya hasilnya. Layak dilanjutkan atau diakhiri dan beralih ke proyek atau pekerjaan lain. (*)
*) Pemimpin Redaksi JTV Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2018–2020

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
