
Photo
FENOMENA unik yang akhir-akhir ini booming di kalangan netizen melalui pemberitaan media tulis dan media sosial adalah keberadaan boneka arwah atau spirit doll. Di kalangan artis, mereka dengan terus terang mempertontonkan bagaimana boneka itu diperlakukan layaknya manusia. Spirit doll diadopsi seolah-olah anak angkat. Spirit doll yang berbentuk bayi diasuh bak seorang balita yang hidup. Dimandikan, dipakaikan baju, dan disuapi makanan. Diperlakukan seperti anak sendiri.
Dilansir dari jawapos.com (4/1), figur publik yang ramai diperbincangkan dan memiliki spirit doll, salah satunya, adalah Ivan Gunawan. Igun, begitu dia biasa disapa, dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa dirinya memang memperlakukan boneka itu layaknya bayi. Namun, dia membantah anggapan bahwa boneka arwah miliknya tersebut ada ”isinya”. Kata arwah yang tersemat itu memang membawa kesan pada hal-hal supranatural pada boneka tersebut. Terlepas dari kontroversi yang ada, topik itu layak untuk dibahas dalam tulisan ini.
Dilihat dari wujudnya, boneka arwah adalah benda mati yang terbuat dari bahan-bahan fisik. Sebagai benda, boneka tersebut tidak bisa melakukan apa pun, kecuali dikendalikan pemiliknya. Kalaupun ada boneka yang ”dihidupkan”, boleh jadi boneka itu ”diisi” melalui ritual khusus. Seperti pada permainan jelangkung yang dikenal sebagai medium untuk memanggil arwah hingga diajak tanya jawab.
Tapi, layaknya sebuah permainan, spirit doll diposisikan sebagai barang mainan yang membuat pemiliknya senang. Ada prinsip amusement bila memainkannya. Dalam psikologi bermain, boneka menjadi menyenangkan pemiliknya manakala membuat pemilik senang dan membahagiakan.
Pro dan kontra masalah spirit doll terjadi akibat perlakuan yang berlebihan terhadap boneka ini. Istilah-istilah yang muncul seperti mengadopsi, memberi makan, merawat, memandikan, memakaikan baju, menambah rezeki, dan memberikan keberuntungan bila memilikinya mengakibatkan berbagai penafsiran tersebut. Memperlakukan boneka itu masih dipandang wajar manakala memperlakukannya sebagai boneka dengan segala atribut kebendaannya. Pandangan yang kontra muncul karena banyak alasan. Dari sisi agama, memelihara spirit doll dapat menjadikan orang musyrik. Lebih baik mengasuh anak yatim yang jelas bermanfaat daripada memelihara boneka secara berlebihan.
Julia Inglis, dalam tulisannya yang berjudul My Dollmaker Story, menyatakan bahwa boneka arwah adalah makhluk kuno, akrab, dan dicintai banyak budaya di seluruh dunia. Menurut dia, dengan membuat boneka arwah ini, ada jalinan ikatan dengan leluhur pembuatnya. Dalam kultur Jawa, boneka arwah juga pernah dibuat dan bahkan menjadi permainan anak-anak kecil di masa lalu. Seperti yang terjadi pada permainan jelangkung, arwah didatangkan lalu ditanya siapa namanya, kapan meninggalnya, dan memberikan informasi terhadap sesuatu yang akan terjadi. Dengan demikian, boneka arwah bukan sekadar boneka biasa, tapi juga memiliki unsur magis.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
