Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Januari 2022 | 02.48 WIB

Spirit Doll, Tren atau Masa Kecil Kurang Bahagia?

Photo - Image

Photo

FENOMENA unik yang akhir-akhir ini booming di kalangan netizen melalui pemberitaan media tulis dan media sosial adalah keberadaan boneka arwah atau spirit doll. Di kalangan artis, mereka dengan terus terang mempertontonkan bagaimana boneka itu diperlakukan layaknya manusia. Spirit doll diadopsi seolah-olah anak angkat. Spirit doll yang berbentuk bayi diasuh bak seorang balita yang hidup. Dimandikan, dipakaikan baju, dan disuapi makanan. Diperlakukan seperti anak sendiri.

Dilansir dari jawapos.com (4/1), figur publik yang ramai diperbincangkan dan memiliki spirit doll, salah satunya, adalah Ivan Gunawan. Igun, begitu dia biasa disapa, dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa dirinya memang memperlakukan boneka itu layaknya bayi. Namun, dia membantah anggapan bahwa boneka arwah miliknya tersebut ada ”isinya”. Kata arwah yang tersemat itu memang membawa kesan pada hal-hal supranatural pada boneka tersebut. Terlepas dari kontroversi yang ada, topik itu layak untuk dibahas dalam tulisan ini.

Dilihat dari wujudnya, boneka arwah adalah benda mati yang terbuat dari bahan-bahan fisik. Sebagai benda, boneka tersebut tidak bisa melakukan apa pun, kecuali dikendalikan pemiliknya. Kalaupun ada boneka yang ”dihidupkan”, boleh jadi boneka itu ”diisi” melalui ritual khusus. Seperti pada permainan jelangkung yang dikenal sebagai medium untuk memanggil arwah hingga diajak tanya jawab.

Tapi, layaknya sebuah permainan, spirit doll diposisikan sebagai barang mainan yang membuat pemiliknya senang. Ada prinsip amusement bila memainkannya. Dalam psikologi bermain, boneka menjadi menyenangkan pemiliknya manakala membuat pemilik senang dan membahagiakan.

Pro dan kontra masalah spirit doll terjadi akibat perlakuan yang berlebihan terhadap boneka ini. Istilah-istilah yang muncul seperti mengadopsi, memberi makan, merawat, memandikan, memakaikan baju, menambah rezeki, dan memberikan keberuntungan bila memilikinya mengakibatkan berbagai penafsiran tersebut. Memperlakukan boneka itu masih dipandang wajar manakala memperlakukannya sebagai boneka dengan segala atribut kebendaannya. Pandangan yang kontra muncul karena banyak alasan. Dari sisi agama, memelihara spirit doll dapat menjadikan orang musyrik. Lebih baik mengasuh anak yatim yang jelas bermanfaat daripada memelihara boneka secara berlebihan.

Julia Inglis, dalam tulisannya yang berjudul My Dollmaker Story, menyatakan bahwa boneka arwah adalah makhluk kuno, akrab, dan dicintai banyak budaya di seluruh dunia. Menurut dia, dengan membuat boneka arwah ini, ada jalinan ikatan dengan leluhur pembuatnya. Dalam kultur Jawa, boneka arwah juga pernah dibuat dan bahkan menjadi permainan anak-anak kecil di masa lalu. Seperti yang terjadi pada permainan jelangkung, arwah didatangkan lalu ditanya siapa namanya, kapan meninggalnya, dan memberikan informasi terhadap sesuatu yang akan terjadi. Dengan demikian, boneka arwah bukan sekadar boneka biasa, tapi juga memiliki unsur magis.

Tugas Perkembangan


Bermain memang tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Bermain dapat terjadi mulai usia kanak-kanak sampai dewasa dan tidak pula mengenal lelaki ataupun perempuan. Permainan yang digunakan juga beragam, tergantung dari apakah permainan itu menimbulkan kesenangan pemiliknya. Jenis permainan yang dipilih juga sangat bergantung pada tahapan perkembangan masing-masing individu.

Bermain boneka di usia kanak-kanak dapat mengajarkan bagaimana seorang anak memiliki rasa tanggung jawab dan melatih imajinasi serta menumbuhkan emosi yang baik. Bahkan, dalam teori pretend play dari Vygotsky, anak dapat bermain pura-pura sesuai perannya dan hal itu mampu membangun karakternya di kemudian hari.

Dalam bahasa psikologi, anak yang bermain boneka dapat menumbuhkan jiwa menyayangi dan memperhatikan adik dan keluarganya. Pada masa kanak-kanan ini, ketika anak tumbuh imajinasinya, anak membayangkan bagaimana seharusnya memperlakukan adik dan anak kecil lainnya. Hasilnya, kasih sayang dan perhatian terhadap orang di luar egonya tumbuh dan hal tersebut sangat baik untuk mendasari perkembangan emosi dan sosialnya.

Ketika anak menginjak remaja, pergaulan dan interaksi sosial makin luas. Benda mati tidak lagi menjadi teman dekatnya. Teman-teman sekolah dan teman sepermainan di lingkungan rumahnya membuat remaja ini mulai melihat dunia luar. Interaksi sosial, ragam permainan di luar rumah, dan tugas-tugas sekolah mengalihkan perhatian di masa kanak-kanak karena tuntutan tugas perkembangan tersebut. Waktu anak yang mulai bergeser ke tugas sekolah dan bermain dengan rekan-rekan seusia remaja menjadikan boneka terlupakan.

Pergantian tugas perkembangan itu menjadi sangat berbeda lagi bila sudah dihadapkan pada masa dewasa. Boneka makin terlupakan. Masalah pekerjaan dan rumah tangga menjadi hal yang sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari orang dewasa. Namun, di balik kesibukannya, masa dewasa mengundang berbagai persoalan juga.

Tren atau Masa Kecil Kurang Bahagia?


Problematika kesempurnaan tugas perkembangan akan tampak ketika masa dewasa datang. Stabilitas emosi, perasaan kesepian (loneliness), pembentukan jati diri dan identitas diri, serta tuntutan gaya hidup membuat orang sibuk dengan hobi-hobi barunya. Dari sini dinamika psikologis seseorang itu menjadi makin beragam. Orang yang stabil emosinya akan menempatkan emosi pada tempat yang sepatutnya. Orang yang kesepian akan mencari objek pengganti teman dalam beragam bentuk manifestasi. Orang yang belum menemukan identitas diri akan mencari identitas diri dengan berbagai cara yang membangun identitasnya.

Tuntutan gaya hidup yang lagi tren juga menjadi bagian yang tidak kalah serunya memengaruhi manifestasi perilaku seseorang. Bahkan, dari gaya hidup ini seseorang bisa menjadi lebih terkenal karena boneka yang dimilikinya. Orang mengunggah di media sosial boneka yang menjadi pujaannya. Dengan kata lain, panjat sosial ini juga menjadi tren untuk menaikkan popularitas, apalagi dilakukan figur publik semacam artis.

Perkembangan manusia dewasa sejatinya tidak terlepas dari perkembangannya di masa kecil. Bila tugas perkembangan di masa kecil bisa dilalui dengan baik, tugas perkembangan di masa selanjutnya juga akan relatif normal dan wajar. Terkait dengan masalah boneka arwah ini, bila boneka diperlakukan seperti ketika di saat usia kanak-kanak, hal itu perlu mendapatkan perhatian.

Spirit doll sebenarnya tidak menimbulkan masalah psikologis bagi pemiliknya manakala dipakai anak sesuai tugas perkembangannya. Namun, bila boneka dibawa ke mana-mana dan bahkan diyakini memberikan kekuatan magis, perlu ditinggalkan. Sebab, akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. (*)




*) SURYANTO, Guru besar psikologi sosial dan dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore