
Photo
FILSUF Jerman Juergen Habermas berkata, ”Kita harus bertindak dalam pengetahuan yang gamblang tentang ketidaktahuan kita.” Kalimat ini –sebagaimana disitir teolog Kanada Christopher Brittain– diucapkan filsuf gaek tersebut untuk menggambarkan kenyataan yang membuat kita rendah hati di masa kedaruratan Covid-19. Pemerintah dan otoritas kesehatan serta kita semua harus mengambil keputusan penting dan genting tanpa sepenuhnya memahami batasan dari bahaya yang menghadang kita.
Langkah ke depan selanjutnya adalah upaya membangun harapan yang menjauh dari optimisme naif atau pesimisme buta. Artinya, kita tidak sepenuhnya bisa optimistis atau sepenuhnya pesimistis.
Bersyukur, apa yang diratapi Habermas dan Brittain adalah suatu sikap di awal pandemi. Saat ini kita mulai memasuki era baru. Terang pengharapan yang optimistis bagaikan lilin yang dinyalakan dan apinya kian membara. Vaksinasi sudah dan sedang terus dikebut. Kekebalan komunitas di depan mata. Harapan bahwa pandemi berubah menjadi endemi bukanlah suatu kemustahilan.
Dua ribu tahun yang lalu, lilin pengharapan juga bernyala di antara para gembala (Lukas 2:8-20). Para gembala, menurut ahli Injil Lukas, Darrell Bock, sering kali dicirikan sebagai kelompok yang ”sederhana dan rendah” (lowly and humble). Mereka adalah peternak upahan yang dibayar pemilik ternak untuk menjaga domba di daerah yang jauh dari permukiman.
Kepada orang-orang rendah seperti inilah pesan pengharapan disampaikan malaikat sebagaimana dicatat narasi Natal dalam Injil Lukas. Cinta Tuhan kepada para gembala merupakan satu di antara banyak contoh dalam Injil Lukas betapa Allah mengasihi mereka yang terpinggirkan. Tidak heran, teolog Katolik Martin Harun OFM menyebut Injil Lukas sebagai ”Injil Kaum Marginal”.
Pesan pengharapan tampak dalam beberapa aspek. Pertama, sebagaimana digariskan komentator Injil Lukas, Joel Green, axis mundi, yakni tempat pertemuan antara Tuhan dan manusia bergerak secara sentrifugal dari Bait Allah ke padang belantara.
Dalam konteks kelahiran Yesus Kristus, malaikat bertemu tiga macam orang. Pertama, malaikat bertemu Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus, di Bait Allah. Lalu, malaikat bertemu Maria, ibu Yesus, di rumahnya. Ketiga, malaikat bertemu para gembala di padang belantara.
Justru di tempat terakhirlah nyata kemuliaan Allah, pujian para malaikat, pemberitaan firman Tuhan, dan respons positif terhadap pesan Tuhan. Ibadah dalam pengertian paling tajam dan komprehensif justru terjadi di antara para gembala di padang, bukan pada seorang imam Zakharia di Bait Allah. Para malaikat utusan Allah sengaja blusukan, meninggalkan Bait Allah dan bertemu para gembala yang rendah di padang. Pengharapan timbul dari cinta Tuhan yang nyata terhadap mereka yang kurang dihargai masyarakat.
Kedua, ada kontras antara fakta para gembala yang ”sangat ketakutan” ketika dikunjungi malaikat (Lukas 2:9) dengan ”kesukaan besar” yang diberitakan malaikat (Lukas 2:10). Seolah malaikat tidak ingin menambah penderitaan para gembala dengan membuat mereka ketakutan oleh kehadirannya.
Karena itu, ia segera menghibur mereka dengan pesan pengharapan. ”Jangan takut,” kata malaikat, ”sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud” (Lukas 2:10-11). Pengharapan timbul dari kabar baik tentang penyelamatan.
Terakhir, pesan pengharapan diberikan para malaikat melalui pujian yang sangat terkenal: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14).
Pujian pertama merupakan suatu ucapan syukur atas kebaikan Tuhan bagi umat manusia melalui hadirnya Sang Tuhan dan Juru Selamat. Ucapan syukur sendiri adalah sejenis upaya membangkitkan pengharapan akan karya Ilahi serupa di masa mendatang. Pujian kedua merupakan suatu pesan pengharapan bagi umat manusia bahwa damai sejahtera diberikan kepada mereka yang takut kepada Tuhan dan yang membenci kejahatan.
Upaya malaikat menyalakan lilin pengharapan para gembala yang merupakan kaum terpinggirkan harus diikuti segenap insan negeri ini. Polisi, misalnya, seharusnya hadir untuk menyalakan lilin pengharapan masyarakat akan keadilan. Sikap tak beradab oknum-oknum polisi yang antara lain merudapaksa gadis ABG di mapolsek dan menyiksa pacarnya hingga bunuh diri adalah kabar buruk yang mematikan lilin pengharapan masyarakat.
Lilin pengharapan juga dapat dinyalakan melalui cinta kepada kaum terpinggirkan. Dalam konteks ini, Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injili Indonesia (TAK GRII) terus berupaya membantu para korban bencana alam dan masyarakat yang terdampak pandemi di berbagai belahan Nusantara tanpa memandang perbedaan keyakinan religius.
Sejauh ini, sepanjang yang saya tahu, TAK GRII telah membagikan puluhan ribu paket sembako dan makanan jadi secara cuma-cuma kepada masyarakat kelas bawah yang terdampak pandemi. Bantuan ini di luar segenap bantuan untuk korban bencana alam dan bantuan peralatan medis untuk ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia.
Sebaliknya, aksi pemerasan terhadap pendatang atau tenaga kerja migran yang harus menjalani karantina merupakan aksi yang memadamkan lilin pengharapan. Aksi seperti ini harus diberantas aparat penegak hukum. Para aparatur negara harus mengembangkan sikap cinta yang menyalakan lilin pengharapan. Masyarakat sudah lelah dengan berbagai kesulitan di masa pandemi dan rentetan bencana alam.
Tindakan Rumini yang memilih memeluk neneknya hingga meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru patut diapresiasi. Ia memilih berkorban nyawa ketimbang harus meninggalkan neneknya sendirian. Sekalipun menyedihkan, aksi nyata Rumini lebih baik ketimbang aksi politisi yang kerap menggunakan bencana alam sebagai panggung pencitraan.
Selain itu, keadilan bagi para korban pelanggaran HAM berat di berbagai daerah, terutama di Papua, merupakan bentuk cinta negara dan kabar baik yang dapat terus menyalakan lilin pengharapan di negeri ini. Selamat Natal! (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
