Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Mei 2020 | 02.48 WIB

Dunia Pendidikan Pascapandemi

Sukemi - Image

Sukemi

SUDAH lebih dari sebulan sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tertanggal 24 Maret 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19) dijalankan. Surat edaran itu, salah satunya, mengatur tentang proses belajar dari rumah.

Hingga saat ini, pemerintah memang belum melakukan evaluasi. Namun, ada kecenderungan proses pembelajaran menggunakan jejaring (daring), entah itu melalui fasilitas webinar seperti Zoom, Hangouts, GoToMeeting, ezTalks Free, GoToWebinar, Join.me, TeamLink, atau Online Meeting telah dijalankan secara meluas.

Sejauh ini yang dilaporkan masih menyangkut jumlah peserta program pendidikan jarak jauh (PJJ). Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Dasar, dan Menengah Kemendikbud menyebut lebih dari 90 persen siswa ikut serta dalam pelaksanaan belajar dari rumah. Demikian juga TVRI yang melaporkan rating pemirsanya naik drastis setelah menyiarkan paket pembelajaran bersama Kemendikbud.

Sementara seperti diberitakan JPNN.com, Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menjelaskan bahwa lembaganya telah melakukan survei tentang pelaksanaan PJJ terhadap 1.700 anak didik dari 50 kabupaten/kota di 16 provinsi pada 13–20 April 2020. Hasilnya cukup mengejutkan. Ada 79,9 persen responden yang menganggap PJJ berlangsung tanpa interaksi guru-siswa sama sekali; 81,8 persen responden menilai para guru lebih menekankan pemberian tugas yang bertubi-tubi sehingga menguras energi anak didik; dan 76,7 persen responden merasa tidak senang belajar dari rumah alias menganggap lebih enak belajar di sekolah.

Dari survei itu juga terungkap, kesulitan para siswa diperparah keterbatasan paket internet. Ada 42,2 persen responden yang mengaku tidak memiliki kuota internet sehingga kesulitan jika harus melakukan tatap muka menggunakan aplikasi Zoom atau sekadar melakukan komunikasi melalui video call. Selain kuota, ternyata 15,6 persen responden tidak memiliki peralatan PJJ yang memadai seperti laptop atau handphone dengan spesifikasi yang memadai untuk belajar daring.

Selain survei, KPAI juga menerima 246 pengaduan, baik dari orang tua maupun siswa, terkait dengan PJJ di masa pandemi Covid-19 (Jawa Pos, 1 Mei 2020).

Dampak Positif

Apa pun kebijakan pendidikan pasti ada plus minusnya. Tetapi, paling tidak dari surat edaran Mendikbud tersebut, sedikitnya ada dua dampak positif dalam ’’keterpaksaan’’ belajar dari rumah (study from home, SFH) lewat PJJ. Pertama, guru dan siswa terpaksa belajar menggunakan media sosial (medsos) untuk pembelajaran. Selama ini medsos hanya digunakan untuk ngobrol, sekarang dimanfaatkan untuk pembelajaran.

Kedua, guru dan siswa kini mulai terbiasa menggunakan handphone, laptop, dan desktop untuk belajar. Jika ini menjadi kebiasaan, akan menjadi pintu masuk bagaimana mereka mencari sumber belajar dengan perangkat teknologi informasi tersebut. Ini adalah satu kemampuan penting yang selama ini belum berkembang pada diri siswa. Bukankah sekarang berbagai informasi bisa didapat dengan mudah di internet.

Dua hal ini akan dapat mempercepat kesiapan kita dalam menghadapi pola pendidikan di era digital.

Pengalaman saat mengikuti seminar melalui situs web (webinar) melalui aplikasi Zoom bersama peserta program double-track (DT) Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Timur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kiranya menjadi pengalaman positif yang berharga. Kegiatan itu dikuti lebih dari 285 siswa SMA/MA yang berada di berbagai penjuru kota di Jawa Timur. Ditambah lagi sekitar 600 siswa yang mengikuti pelajaran melalui YouTube secara live.

Kesan yang terlihat, kegiatan tersebut berlangsung begitu menyenangkan. Ini berbeda seperti yang terungkap dari survei KPAI, di mana 76,7 persen responden merasa tidak senang belajar dari rumah. Padahal, seperti diketahui, peserta DT bukan siswa milenial yang familier dengan gadget. Mereka adalah remaja desa yang bersekolah di SMA/MA pinggiran desa di tingkat kabupaten.

Seperti diketahui, DT adalah program keterampilan tambahan bagi sekolah-sekolah SMA/MA yang mayoritas siswanya (85 persen ke atas) tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka rata-rata berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah.

Apa kunci keberhasilan pelaksanaan itu? Selain motivasi yang besar dari peserta adalah karena cara penyajian dan pembawaan yang disampaikan tidak satu arah, ada dialog atau interaksi antara siswa dan pemberi materi. Pada titik inilah kiranya PJJ yang jika mengacu pada hasil survei KPAI belum menggembirakan perlu terus disempurnakan. Sebab, cepat atau lambat, ke depan selepas pandemi Covid-19 ini berlalu, dunia pendidikan kita akan mengarah pada pembelajaran berpola PJJ.

Perlu Latihan

Pertanyaannya, apa yang harus dipersiapkan? Karena menjadi ujung tombak atas keberhasilan proses pembelajaran, guru perlu belajar dan berlatih untuk membiasakan diri dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.

Diyakini secara umum, guru di masa pandemi ini sudah berusaha menyampaikan yang terbaik terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, tapi karena mungkin baru kali pertama menjalankan proses PJJ sehingga terkesan masih canggung dan gagap.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita berharap banyak pelajaran yang bisa diperoleh dalam kondisi pandemi Covid-19 ini untuk bekal kita menghadapi perubahan yang akan terjadi di dunia pendidikan. Semoga! (*)




*) Sukemi, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas NU Surabaya, anggota Tim Penulis Buku SMA/MA Double-track Jatim, dan staf khusus Mendikbud 2010–2014

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=x73OgCyx3XU

https://www.youtube.com/watch?v=OkFJxvqBXlU

https://www.youtube.com/watch?v=ocX59aSNg6g

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore