alexametrics

Hari Perpustakaan dan Buku Nasional: Darurat Buku di Indonesia

Oleh GOL A GONG *)
17 Mei 2022, 19:48:44 WIB

SEORANG anak kecil di Boru, Larantuka, Flores Timur, begitu antusias ketika saya beri hadiah sebuah buku karena berani bertanya kepada saya. Begitu juga seorang remaja di Kabupaten Malaka, NTT, melompat kegirangan menerima hadiah novel karya saya –Balada Si Roy– yang filmnya sebentar lagi tayang di bioskop. Remaja itu berhasil menulis satu kalimat indah tentang buku: Kamu sewaktu-waktu bisa aku tinggalkan, tapi buku sampai kapan pun tidak akan pernah aku tinggalkan.

Merayakan Buku

Begitulah buku. Sebuah benda yang penuh misteri. Dia sering jadi perdebatan di antara kita. Buku jadi kambing hitam bahwa kita adalah bangsa dengan budaya baca yang rendah. Buku yang jika di Jawa sering hancur terkena rayap atau hanyut terbawa banjir, tapi jika di Indonesia bagian Timur sangat dinanti-nanti sekali. Buku yang mahal. Buku yang tanpa kita sadari hasil jiplakan.

Begitulah nasib buku: dibenci tapi dicintai seperti halnya kamu. Walaupun setiap tahun kita merayakannya dengan meluncurkan dan membedah buku-buku baru.

Pada 23 April, kita bersukacita dengan Hari Buku Sedunia walaupun yang kita rayakan bukan buku yang kita tulis. Pada 17 Mei, kita berpesta buku dengan IKAPI –para penerbit. Harga buku diobral. Tapi, kita melupakan satu hal: 17 Mei adalah Hari Perpustakaan Nasional. Kemudian pada 2002 di era Malik Fadjar –Mendikbud RI–, diluncurkanlah Hari Buku Nasional agar ekosistem perbukuan di Indonesia melaju pesat. Selain masjid yang harus kita makmurkan, tentu penerbit dan penulis juga harus dimakmurkan. Sudahkah?

Duta Baca

Pada 30 April 2021, saya mendapatkan amanah meneruskan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Awalnya, saya menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan seperti Najwa. Saya tidak sempurna. Saya memiliki banyak kekurangan. Tapi, Muhammad Syarif Bando sebagai kepala Perpusnas RI menyemangati, ”Nanti yang menyempurnakan dan memperbaiki kekurangannya kita semua.” Itu berarti literasi kolaborasi. Kita bisa bekerja bersama untuk meraih keberhasilan.

Kepala Perpusnas RI sudah melakukan hal yang sangat revolusioner, yaitu merevitalisasi perpustakaan. Kini digaungkan di mana-mana bahwa ’’Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”. Setiap orang yang membaca buku puncaknya adalah menciptakan barang dan jasa. Jika kamu membaca buku kecakapan hidup tentang cara membuat kue donat, maka kemudian kamu mengeluarkan produk donat versi kamu dan menjualnya bisa secara online.

Image bahwa perpustakaan adalah gudang buku dihapus. Perpustakaan-perpustakaan di negeri ini direvitalisasi. Arsitekturnya dipoles jadi trendi, buku-bukunya ditata agar enak dipandang, ruang-ruang diskusi digelar, aneka lomba literasi hadir setiap saat. Perpustakaan jadi tempat belajar para pemustaka. Perpustakaan harus meningkatkan kesejahteraan pemustakanya.

Perbanyak Menulis Buku

Kemudian, Perpusnas RI memberi informasi, ’’UNESCO menyodorkan angka ideal bahwa satu pemustaka harus membaca 3 buku baru dalam setahun. Sementara temuan kita 1 buku ditunggu 90 pemustaka.”

Apakah itu artinya tidak ada anggaran untuk mencetak buku atau tidak ada penulis?

Jawaban yang saya temukan: tidak ada penulis. Saya sudah mendatangi komunitas literasi di masyarakat atau sekolah dan kampus. Buku-buku memang ditulis, tapi tidak memenuhi syarat untuk dipajang dan diperjualbelikan di toko buku. Banyak buku yang lahir tidak melalui proses kreatif yang benar. Misalnya, kemasan buku yang tidak menarik, editing yang harus ditingkatkan karena masih banyak ditemukan kesalahan mendasar, tidak bisa membedakan mana biografi dan fiksi, curhat dianggap menulis puisi.

Saya pernah mendapatkan bocoran data dari Arys Hilman –ketua IKAPI Pusat– saat Hari Buku Nasional 2021 di Untirta Serang, ’’IKAPI baru bisa memasok 40–70 juta buku setahun”. Sedangkan jika 1 pemustaka harus membaca 3 judul buku baru, berarti minimalnya 100 juta hingga 300 juta buku dicetak dalam setahun.

Kita tahu bahwa di negeri ini surplus gawai. Ada 370 juta gawai beredar, sementara populasi kita 270 juta. Pertanyaannya, ’’Apakah mereka membaca buku digital?”

Menurut Adin Bondar, kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Budaya Baca Perpusnas RI, ’’Ini sudah darurat buku. Kita harus memperpendek kesenjangan bahwa 1 buku dibaca oleh 90 pemustaka menjadi 1 buku untuk 30 pemustaka.”

Berarti kita harus memperbanyak menulis buku. Saya membuktikannya ketika melakukan Safari Literasi dari Jawa, Bali, NTB, hingga NTT pada 18 Januari–15 April 2022. Saya ditemani 3 asisten berada di perjalanan selama 84 hari, mengunjungi 40 kota, dan bergerak memberi pelatihan dan membagi-bagikan buku di 200 titik kegiatan.

Karakter orang-orangnya dalam merespons literasi di 40 kota itu berbeda-beda. Jika di Jawa, semua orang meminta kepada kami diajari menulis (esai, cerpen, novel, biografi, dan puisi) yang baik dan bisa laris dijual. Di Bali, lebih tertarik ke pariwisata (travel writing). Sedangkan di NTB dan NTT meminta banyak: pelatihan menulis, buku-buku baru, perpustakaan keliling, dan gedung perpustakaan yang layak.

Ya, kita harus memperbanyak menulis buku. Termasuk melahirkan penulis buku baru. Perpusnas RI sudah menemukan solusi atas persoalan gonjang-ganjing ISBN. Tapi, kita harus membantu Perpusnas RI agar tidak lagi ditegur Lembaga ISBN Internasional di London. Bayangkan, dalam kurun waktu 2016 hingga 2021 Perpusnas mengeluarkan 612.589 ISBN. Tapi, ada 271.678 ISBN tidak mengirimkan nomor bukti berupa dua buku saja ke Perpusnas.

Nah, apakah penerbit yang kamu kelola termasuk yang melakukan itu? (*)


*) GOL A GONG, Duta Baca Indonesia 2021–2025, pendiri Komunitas Literasi Rumah Dunia, sudah menulis 126 buku

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads