
Photo
KEBIJAKAN Kampus Merdeka sudah digulirkan Mendikbud Nadiem A. Makarim pada 24 Januari 2020. Terobosan kebijakan itu menarik untuk dicermati. Selain menawarkan kemudahan, Mendikbud memberikan tantangan bagi perguruan tinggi (PT).
Ada empat program Kampus Merdeka. Pertama, PT yang terakreditasi A atau B akan mendapat kemudahan dengan langsung diberi izin membuka prodi baru. Namun, pada saat yang sama, mereka ditantang mampu bekerja sama dengan perusahaan kelas dunia, organisasi nirlaba kelas dunia, BUMN atau BUMD, serta PT lain pada ranking 100 besar dunia versi Quacquarelli Symonds (QS).
Kedua, PT memang diberi kemudahan sistem akreditasi. Namun, mereka juga ditantang untuk mengikuti best practice international standard agar sebanyak mungkin diakui di luar negeri. Selain itu, PT didorong dan dituntut mencetak SDM unggul di panggung dunia.
Ketiga, PT negeri memang diberi kemudahan untuk mencapai status perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH), tetapi setelah itu juga dituntut bisa bergerak cepat agar bisa menembus peringkat 500 besar dunia versi QS.
Keempat, PT diminta memberikan kemudahan dengan memfasilitasi hak belajar tiga semester di luar program studi. Action plan terhadap program itu menuntut keterbukaan setiap perguruan tinggi untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan sesama penyelenggara pendidikan maupun dunia industri, atau yang disebut Mendikbud dengan istilah pernikahan masal.
Ekosistem WCU
Sejatinya, kebijakan Kampus Merdeka merefleksikan suatu impian besar untuk mendongkrak kualitas PT agar mampu bersaing di panggung dunia. Impian itu dapat terwujud manakala tercipta ekosistem world class university (WCU). PTN memiliki tiga jenis status, yaitu PTN satuan kerja (satker), PTN BLU, dan PTNBH.
Kini terdapat 11 PTNBH di Indonesia yang paling potensial bagi penciptaan ekosistem WCU. Beberapa keunggulan PTNBH jika dibandingkan dengan PTN BLU dan PTN satker, antara lain, fleksibilitas kemitraan dengan industri, otonomi untuk mengatur keuangan, kebebasan untuk mengangkat dosen dan tenaga kependidikan non-PNS, kepemilikan aset penuh, serta keleluasaan untuk mengembangkan fasilitas akademik dan nonakademik.
Namun, PTNBH masih memiliki keterbatasan keuangan untuk pembiayaan operasionalnya. Padahal, untuk menjadi PT berkelas dunia, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Dalam konteks inilah, konsep pembiayaan operasional perguruan tinggi melalui dana abadi (endowment fund) menjadi sangat penting bagi PTNBH.
Dana abadi adalah dana yang bersifat abadi, dihimpun dan dikelola secara khusus, serta hasil pengelolaan dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan tridarma perguruan tinggi demi menjamin keberlangsungan PT tanpa mengurangi nilai pokok dana tersebut.
Kita tentu mendambakan perguruan tinggi yang berstatus PTNBH bisa segera sejajar dengan PT kelas dunia seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, Harvard University, dan universitas kelas dunia lainnya.
Berdasar publikasi QS World University Ranking 2020, MIT menempati urutan pertama dalam daftar universitas terbaik dunia dengan skor sempurna, yaitu 100. Peringkat kedua ditempati Stanford University dengan skor 98,4 dan peringkat ketiga diduduki Harvard University 97,4.
Sementara untuk Indonesia, terdapat tiga PTNBH yang masuk dalam peringkat 500 besar, yaitu UI dengan skor 34,7; UGM (33,2); dan ITB (32,3). Kondisi itu harus menjadi spirit bagi seluruh PTNBH untuk menembus peringkat 500 besar universitas terbaik dunia. Bagi yang sudah masuk, tentu mereka perlu terus memperbaiki capaian peringkatnya.
Dana Abadi PTNBH
Belajar dari perguruan tinggi yang menempati peringkat tiga besar terbaik dunia, kita jadi tahu bahwa salah satu kunci sukses mereka adalah dukungan endowment fund yang sangat besar dalam menunjang biaya operasionalnya. Besaran dana abadi untuk tahun fiskal 2019 dari tiga universitas terbaik dunia adalah MIT yang memiliki dana abadi USD 17,4 miliar atau setara Rp 250 triliun, Stanford University (USD 27,7 miliar atau setara Rp 400 triliun), dan Harvard University (USD 40,9 miliar atau setara Rp 590 triliun).
Dana abadi itu dihimpun dari berbagai sumber, bukan hanya alumni dan mitra kerja sama, melainkan dari semua pihak yang merasa peduli dan berkepentingan dengan kemajuan dunia PT.
Lantas, bagaimana dana abadi bisa menjadi kunci sukses mereka? Contohnya, Harvard University memiliki dana abadi yang dikelola Harvard Management Company (HMC) yang didirikan pada 1974. HMC sebagai perusahaan investasi mengelola endowment fund dengan menginvestasikannya pada berbagai sektor keuangan dan sektor riil yang prospektif.
Hasil investasi itu dijadikan dana operasional dan pengembangan Harvard University. Kini hasilnya telah memberikan kontribusi untuk memenuhi sekitar sepertiga dari total kebutuhan operasional tahunan (operating revenues) dari salah satu universitas terbaik dunia dengan jumlah dana abadi terbesar dan afiliasi penerima Nobel terbanyak.
Berdasar laporan keuangan 2019, diketahui bahwa pendapatan operasional Harvard University terbesar bersumber dari hasil investasi dana abadi, yaitu 35 persen. Sisanya diperoleh dari beberapa sumber. Di antaranya, 22 persen dari student income, sponsored support (17 persen), gifts current use (8 persen), dan sumber lain (8 persen). Postur pendapatan operasional Harvard University itu dapat dijadikan benchmark bagi PTNBH untuk mencapai target sebagai WCU.
Tanpa dukungan ketersediaan dana abadi, perguruan tinggi mana pun akan sulit menjadi WCU. Menargetkan diri menjadi WCU memang berkonsekuensi memerlukan dana besar untuk mengembangkan banyak riset dan inovasi yang fenomenal.
Untuk itu, perlu didukung pula oleh ketersedian berbagai fisilitas penunjang yang berstandar internasional seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, asrama, dan fasilitas penunjang lain. Misalnya, saat ini ITS mengembangkan riset dan inovasi dengan tema autonomous car dan autonomous boat.
Sekarang semua PTNBH mulai menggalakkan penggalangan dana abadi. Namun, jumlah perolehannya masih amat sangat jauh bila dibandingkan dengan universitas kelas dunia tersebut. Karena itu, kiranya perlu kita pikirkan bersama bagaimana agar penggalangan dana abadi bagi PTNBH dapat berjalan efektif sehingga hasil investasi dari dana abadi juga bisa berkontribusi me-menuhi sepertiga kebutuhan operasional PTNBH.
Dalam konteks ini, ada baiknya pemerintah melalui Kemendikbud mempertimbangkan skema bantuan khusus dana abadi bagi PTNBH, bukan hanya bantuan operasional. Skema itu bisa menjadi stimulus bagi PTNBH menuju kemandirian keuangan sehingga menjadi kampus merdeka secara finansial. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
