Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Agustus 2024 | 03.53 WIB

Ketika MBKM Menjadi Jembatan Karir Mahasiswa

Erza Angelia Putri (kanan-kacamata) bersama rekannya di pers mahasiswa, Radio Terminal UNESA. (Istimewa)

oleh Erza Angelia Putri

JawaPos.com - Tingginya angka pengangguran masih menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, persentase tingkat pengangguran terbuka atau TPT per Februari 2024 sebesar 4,82 persen atau 7,2 juta orang. Meskipun mengalami penurunan sebesar 0,63 persen dari tahun sebelumnya, Namun, angka tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Dari angka tersebut, sebanyak 871.860 merupakan pengangguran dari lulusan perguruan tinggi jenjang sarjana (S1) dan sebanyak 173.846 merupakan lulusan diploma. Jika ditelusuri, ada beberapa faktor tingginya angka pengangguran terbuka maupun terdidik di Indonesia, salah satunya rendahnya relevansi atau adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan tuntutan atau kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).  

Faktor relevansi ini menjadi perhatian khusus pemerintah. Dalam berbagai kesempatan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) Kemendikbudristek, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc, mengakui kualitas lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnyamemenuhi kualifikasi yang dibutuhkan dunia kerja.

MBKM Solusi Kesenjangan

Di tengah badai pengangguran ini, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) hadir sebagai oase di tengah hamparan gurun pasir. Kendati tak lepas dari kritikan, kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini bisa menjadi jawaban permasalahan pengangguran.

MBKM membuka kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja, usaha, dan industri. Kebijakan yang diatur dalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 ini menjadi terobosan pemerintah dalam mengatasi permasalahan dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Berbagai program diinisiasi untuk memberikan pilihan bagi mahasiswa, seperti proyek kemanusiaan, kewirausahaan, pertukaran pelajar, asistensi mengajar, studi independen, penelitian, hingga praktik kerja atau magang dan bela negara.

Melihat banyaknya benefit program ini, sudah pasti mahasiswa lama (mahasiswa angkatan sebelum MBKM) akan iri. Betapa tidak, dulu, bayangan akan dunia industri dan usaha saja sudah membuat mahasiswa bingungnya bukan main.

Berbeda dengan mahasiswa angkatan sekarang yang memiliki kesempatan secara langsung untuk keluar dari bangku perkuliahan sejenak dan melihat, merasakan, melakukan secara langsung, teori-teori hanya bisa mereka pelajari di dalam kelas menjadi hal yang bisa direalisasikan secara nyata.

MBKM memberikan peluang kepada mahasiswa untuk melangkah lebih jauh. Lebih dari sekadar pemenuhan SKS semata, program MBKM membuka mata mahasiswa mengenai apa yang harus dihadapi di dunia pekerjaan lebih awal.  

Sebagai contoh, mahasiswa yang melaksanakan MBKM magang memiliki kesempatan yang lebih untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan mereka yang tidak menjalani magang. Dengan magang, selain merasakan atmosfer dunia industri secara langsung, juga menjadi kesempatan mahasiswa untuk unjuk kompetensi.

Dari sisi perusahaan, hal ini memudahkan mereka mencari SDM dengan kualifikasi yang diharapkan. Terkait hal ini, ada beberapa contoh dimana mahasiswa magang langsung ditarik sebagai SDM perusahaan tempat mereka magang. Ada juga yang sudah lulus mendapat tawaran pekerjaan dari tempatnya magang.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore