
Wawan Sobari
ADA ironi keputusan para elite pasca penetapan hasil Pemilu 2024. Arah posisi politik elite terhadap pemenang pemilu sulit dijangkau rakyat. Keputusan mengenai bergabung dalam koalisi atau memilih oposisi seolah hanya domain kalkulasi elite.
Konsolidasi politik elitis pimpinan partai seolah menafikan aspirasi warga yang memilih pihak yang kalah. Padahal, rakyatlah sejatinya yang harus menjadi pertimbangan keputusan posisi politik itu. Setiap keputusan satu atau beberapa partai diagregasi oleh banyak suara rakyat atas proposal kepemimpinan politik, program, dan manfaatnya.
Perilaku Memilih
Memahami perilaku memilih merupakan salah satu dasar penting mempertimbangkan keputusan partai. Temuan exit poll (EP) atau survei segera seusai pencoblosan oleh Poltracking Indonesia (14 Februari 2024) mengategorikan tiga alasan memilih kandidat Pemilu Presiden (Pilpres) 2024, yaitu rasional (50 persen/%), psikologis (22,5%), dan sosiologis (13,5%).
Di antara pemilih yang bertindak rasional, sebanyak 20,3% pemilih pasangan capres-cawapres 01 (Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar) dan pasangan capres-cawapres 03 (Ganjar Pranowo-Mahfud MD) mempertimbangkan program-programnya. Maka, ada sekitar 16.564.800 pemilih (perkiraan partisipasi 80%) memiliki pertimbangan strategis yang berbeda dengan pasangan pemenang.
Analisis segregasi menunjukkan perbedaan pertimbangan lainnya. Hasil EP Indikator Politik (14 Februari 2024) mengungkap alasan tertinggi memilih pasangan capres-cawapres 01 karena ingin ada perubahan (18,6%). Sementara alasan tertinggi memilih pasangan capres-cawapres 02 (Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka) dan 03, masing-masing karena tegas, berwibawa, berlatar belakang militer (20,4%), dan perhatian kepada rakyat (26,7%).
Selain itu, para pemilih pasangan capres-cawapres 01 dan 03 mempertimbangkan visi-misi dan program kerjanya (18,6% dan 12,3%). Dengan kata lain, para pemilih tersebut memiliki aspirasi program pemerintahan relatif berbeda dengan pasangan capres-cawapres 02 yang memenangi Pilpres 2024.
Perbedaan itulah yang seharusnya menjadi dasar pertimbangan para elite pengusung pasangan capres-cawapres 01 atau 03 membentuk oposisi. Elite memastikan keseimbangan kebijakan dan program pemerintah terpilih yang akan berdampak pada konstituennya.
Sementara analisis agregasi menunjukkan perbedaan pilihan capres-cawapres tidak sepenuhnya kontras dalam argumen memilih. Temuan EP Indikator (14 Februari 2024) menunjukkan kesamaan persepsi pemilih seluruh pasangan capres-cawapres mengenai masalah paling mendesak yang harus diselesaikan oleh pemimpin terpilih.
Tiga basis capres-cawapres sepakat mengenai urutan lima masalah paling mendesak dituntaskan, yaitu pengendalian harga-harga kebutuhan pokok, pemberantasan korupsi, pengurangan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan keamanan/ketertiban. Semua basis juga menginginkan perubahan. Argumen perubahan tidak hanya diinginkan basis pasangan capres-cawapres 01 (14,3%) dan 03 (6,9%). Basis pasangan 02 menginginkan hal yang sama (4,8%), sebagaimana temuan jajak pendapat LSI Lembaga (19–21 Februari 2024).
Berdasar temuan tersebut, gagasan pentingnya oposisi pada pemerintahan mendatang (2024–2029) memiliki landasan logis. Kehadiran oposisi bukan semata karena kebutuhan pengawasan pemerintahan. Oposisi juga memiliki visi mewujudkan aspirasi konstituen.
Oposisi tak semata mencegah tirani pembuatan kebijakan. Oposisi juga menjamin pemerintah bertanggung jawab menjalankan legislasi dan penganggaran dengan mengakomodasi kepentingan basis pasangan kandidat 01 dan 03.
Desain Oposisi
Untuk mewujudkan oposisi, kita bisa belajar dari temuan-temuan akademis. Riset dan teori oposisi dalam kajian politik mengungkap lima elemen pendorong politik oposisi. Unsur tersebut adalah pengaturan kelembagaan oposisi, posisi politik partai dan pimpinan partai, polarisasi ideologi, tingkat fragmentasi lembaga legislatif, serta preferensi para legislator (Forestiere, 2011).
Pascapemilu 2024, hanya polarisasi ideologi yang kurang tampak menonjol pada peta kekuatan parlemen mendatang. Meskipun demikian, belajar dari pengalaman pembentukan pemerintah sebelumnya, arah koalisi atau oposisi cenderung ditentukan secara eksklusif oleh posisi politik partai dan pemimpin partai. Maka, sikap etis para pemimpin partai dibutuhkan untuk berkomitmen membangun kekuatan oposisi.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
