Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Februari 2024 | 20.04 WIB

Misteri Puzzle Kekalahan Ganjar-Mahfud dan Raihan PDIP di Pileg

Airlangga Pribadi Kusman - Image

Airlangga Pribadi Kusman

Oleh AIRLANGGA PRIBADI KUSMAN

RAKYAT telah memilih pemimpin Indonesia (pasangan presiden-wakil presiden) di Hari Kasih Sayang 14 Februari 2024. Proses penghitungan suara masih berlangsung, sementara hasil quick count berbagai lembaga survei telah mengabarkan kemenangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 2 itu meraup suara sebesar 58,60 persen.

Disusul pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sebesar 25,26 persen. Dan, peringkat terakhir pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebesar 16,14 persen dengan penghitungan yang masuk 93,85 persen dari total sampel dari 2.000 TPS (tempat pemungutan suara) (Litbang Kompas per Kamis, 15 Februari 2024, pukul 11.55 WIB).

Terkait dengan posisi pasangan Ganjar-Mahfud tersebut, misteri terbesarnya adalah hasil ini berbanding terbalik dengan capaian partai utama pengusung pasangan tersebut, PDI Perjuangan (PDIP). Partai banteng di posisi teratas berdasar hitung cepat dengan raihan suara 16,69 persen.

Hasil quick count Litbang Kompas per Kamis, 15 Februari 2024, pada pukul 11.55 WIB di atas, yang juga sejalan dengan hasil hitung cepat berbagai lembaga lain, memang bukanlah hasil final. Kita masih harus menunggu hasil akhir resmi dari KPU.

Namun, berdasar hasil quick count tersebut, tulisan ini hendak menyingkap misteri kontras hasil Ganjar-Mahfud dengan keunggulan PDI Perjuangan di pemilihan umum legislatif (pileg). Suatu misteri yang menarik kita susun puzzle (kepingan)-nya apabila kita tarik mundur melihat hasil survei, misalnya dari Lembaga Survei Indonesia, pada September 2023 saat belum ada deklarasi resmi pasangan calon (paslon).

Kita akan melihat angka yang jauh berbeda. Ketika itu, Prabowo di posisi teratas sebesar 34 persen, disusul Ganjar 30,4 persen, dan terakhir Anies dengan 22 persen. Lihat kemudian yang terjadi pada survei Indikator Politik Indonesia per Desember 2023.

Suara Prabowo-Gibran unggul dengan lompatan luar biasa, mencapai 46,7 persen. Diikuti Ganjar-Mahfud yang mengalami penurunan cukup besar dengan angka 24,5 persen dan sedikit penurunan dari Anies-Muhaimin sebesar 21 persen.

Peristiwa September–Desember tersebut tentu merupakan faktor yang menentukan dari hasil quick count Pilpres 2024. Tulisan ini hendak mengurai mengapa setelah berbagai rangkaian peristiwa, mulai kontroversi keputusan Mahkamah Konstitusi terkait prasyarat capres-cawapres serta berbagai gelombang penolakan publik terhadapnya sampai terbentuknya ketiga pasangan dalam Pilpres 2024, justru menjadi gempa elektoral serta tsunami politik Ganjar-Mahfud?

Pengaruh signifikan dari perubahan tersebut adalah faktor determinasi Presiden Joko Widodo dan daya kuasa yang dimiliki. Tampilnya Gibran sebagai cawapres mendampingi Prabowo memengaruhi persepsi politisi yang berkontradiksi dengan gelombang suara penolakan atas nama etika politik dari mereka yang memprotes.

Bagi para elite politik, naiknya Gibran menjadi cawapres Prabowo dimaknai sebagai sinyal politik Jokowi. Bagi elite, daya gravitasi kekuasaan antara Jokowi sebagai presiden yang terepresentasi dalam Gibran maupun Prabowo sebagai menteri pertahanan menjadi daya tarik besar agar mereka tetap berada di dalam poros kekuasaan.

Pada tingkat aparat pemerintahan, pengangkatan 23 Pj gubernur kurun 2022–2023 tentu juga memengaruhi pejabat yang bersangkutan dalam membaca arah politik Jokowi. Kedua kutub politik, yakni manunggaling klan Jokowi dan Prabowo, tentu menjadi gunung magnetis yang memengaruhi gerak politik mereka.

Sementara bagi elite politik PDIP, tampilnya Gibran juga memperlihatkan orientasi politik Jokowi. Itu mengguncang internal banteng yang tidak pernah menyangka Jokowi akan meninggalkan partai yang membesarkannya.

Hasil interview penulis dengan beberapa kader partai, mereka memprioritaskan pertarungan di pileg. Mengingat waktu yang bersamaan antara pilpres dan pileg, kesalahan manuver untuk bertarung di dua medan pertarungan bisa berakibat fatal.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore