DUNIA sedang bersedih. Kabar kematian berdatangan. Di Tiongkok, Italia, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara lain.
Jumlah kematian yang besar. Kita menundukkan kepala, berdoa. Semoga yang telah tiada, beristirahat dengan tenang.
Semoga kita, yang masih senapas seudara, dilindungi oleh-Nya dari persebaran dan penularan virus korona. Dan, semoga kesedihan ini lekas berakhir dan kita bisa melanjutkan hidup dengan tenang dan bersemangat.
Indonesia, yang pada akhirnya tak dapat berkelit dari sebaran virus berbahaya ini, memang masih punya persoalan dengan menyadarkan masyarakat tentang model persebaran dan penularannya. Terutama, karena kita adalah masyarakat yang suka srawung, bergaul dan berbagi. Tiap hari bertemu dan berkumpul dengan banyak orang; bersalaman, bertegur sapa, dan bercengkerama. Di pusat perbelanjaan, keramaian, dan kegiatan-kegiatan lain.
Sungguh sulit melarang jamaah-jamaah pengajian untuk tidak berangkat, apalagi untuk membatalkan majelis-majelis yang telanjur rutin bertahun-tahun. Sungguh susah menghalangi ibu-ibu arisan untuk menyetop dulu pertemuan mereka.
Tidak gampang meminta masyarakat berhenti belanja di pasar tradisional dan modern. Tidak seperti sekolah-sekolah, yang bisa saja dialihkan model belajarnya dengan media daring. Dengan belajar di rumah. Ibadah pun, syukurlah, bisa di rumah.
Namun, mengerem mendadak kegiatan-kegiatan luar rumah memang tak mudah. Apalagi bagi masyarakat yang selama ini memang bekerja tidak dari rumah. Juga, yang telanjur merantau dan menafkahi keluarganya dari jauh.
Menjadi harapan orang-orang terkasihnya di rumah. Dan, masih banyak lagi persoalan domestik lain, yang melibatkan perasaan, yang tidak tertangkap oleh radar ilmiah, penalaran cerdas, dan diskusi akademik.
Tentu, kita sangat patut berterima kasih kepada pemerintah, lembaga, dan pihak-pihak yang kompeten dan intens dalam ikhtiar menanggulangi Covid-19. Namun, sebaiknya kita tidak mengabaikan peran penting orang-orang arif dan bijak, para pengasuh jiwa dan hati kita, guru-guru agama dan keyakinan, serta organisasi-organisasi kemasyarakatan yang telah mengajak dan mengajari kita untuk juga mengambil langkah-langkah spiritual.
Tidak bijak, dan memang tak boleh, doa disepelekan oleh siapa pun, di mana pun, kapan pun, terutama dalam keadaan kita pada hari-hari ini. Upaya medis, langkah-langkah pembersihan tubuh dari peluang virus menular, antara lain dengan serajin mungkin mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker bagi yang sakit, dan memperbarui tradisi bersalaman tangan dengan menangkupkan telapak, alangkah baik jika disempurnakan dengan berdoa.
Fenomena virus korona ini juga momen yang sangat baik untuk menata kembali tauhid dan karunia keimanan kita pada Sang Khalik. Terlepas dari apakah Covid-19 ini virus alami atau bikinan pihak-pihak tertentu, ia pada hakikatnya adalah makhluk Tuhan.
Sesuatu yang bikinan manusia tak menjadikannya bukan makhluk Tuhan. Segala sesuatu di semesta raya ini adalah makhluk-Nya. Kita, umat manusia ini, dan tumbuhan, hewan, serta virus korona, seluruhnya bertuhan.
Berdoa, memohon pada Tuhannya virus korona, bukanlah sesuatu yang konyol. Di atas segala kekuatan menyembuhkan dan mengobati sakit, Tuhan adalah Yang Maha Menyembuhkan dan Mengobati. Tata lahir dengan daya upaya medis dan kesehatan, disempurnakan dengan tata batin dengan beribadah dan berdoa sebaik-baiknya, tak dapat dimungkiri sebagai langkah integral. Menyatukan pikiran dan perasaan, marilah kita hadapi kenyataan ini secara holistik.
Virus ini pun telah mengingatkan kita pada betapa penting keluarga dalam kehidupan. Kita belajar lagi makna dan praktik langsung melindungi keluarga. Menyerang mereka pada strata usia berapa saja, virus korona menegur kita dengan kekhawatiran dan takut.
Kearifan dan agama mengajak kita waspada tanpa panik. Meski berdaya mematikan, mari kita imani, bukan Covid-19 yang mematikan, tapi Dia Yang Maha Menghidupkan Mematikan, Menghidupkan lagi. Tuhan, lindungi kami. (*)