Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 November 2016 | 22.36 WIB

Waspada dan Kenali Ministroke

Asra Al Fauzi - Image

Asra Al Fauzi

Tema World Stroke Day (Hari Stroke Sedunia) 2016 adalah Face the Facts: Stroke is Treatable. Suatu aspek penting dari penanganan stroke yang harus diketahui masyarakat luas untuk mencegah kecacatan dan kematian akibat stroke.



Dogma stroke di masyarakat harus diubah. Stroke penyakit yang tiba-tiba, stroke tidak bisa dicegah, stroke pasti cacat dan lumpuh, atau stroke sudah bakat adalah beberapa persepsi masyarakat yang salah kaprah. Kampanye bahwa stroke bisa dicegah dan diobati harus ditekankan serta akan mendorong upaya peningkatan kualitas pencegahan dan pelayanan medis terkait stroke di tingkat masyarakat luas.





Ministroke



Ministroke atau istilah medisnya transient ischemic attack (TIA) adalah suatu episode terjadinya gangguan fungsi saraf akibat kekurangan pasokan darah ke otak yang terjadi beberapa saat (sementara) dan membaik normal kembali dalam waktu beberapa menit sampai paling lama kurang dari 24 jam. Menurut American Stroke Association (ASA), TIA adalah episode sementara adanya disfungsi saraf akibat iskemia otak tanpa adanya infark otak (sel otak sudah mati). Jadi, sifatnya sementara dan bisa pulih kembali. Karena kondisi klinis itu, TIA sering disebut secara populer dengan ministroke.



Gejala TIA sangat bervariasi, bergantung individu dan bagian otak yang terkena. Beberapa gejalanya antara lain pusing dan kehilangan keseimbangan sampai jatuh. Selain itu buta sesaat (amaurosis fugax), kesulitan bicara (afasia), kelumpuhan separo anggota tubuh (hemiparesis), terasa tebal dan semutan separo anggota tubuh (hemianesthesia), serta wajah mencong dan kadang pingsan sesaat. Penyebab TIA tersering adalah emboli (bekuan darah) dan trombus (plak lemak). Adanya plak atherosclerotic pada pembuluh darah di leher menuju otak kadang bisa lepas dan menuju pembuluh darah di otak, yang kemudian akan menyumbat aliran darah ke bagian otak tertentu.



Selain itu, bila ada kelainan jantung atrial fibrilation, mudah terjadi bekuan darah yang kemudian dipompa ke otak, terjadilah pembuntuan aliran darah ke otak. Pada TIA, pembuntuan ini bersifat sementara sehingga kelainan saraf yang terjadi bisa kembali normal. Penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol atau lemak akan mengakibatkan rentan terjadinya gangguan aliran ke otak. Sedikit aliran darah terganggu, mudah terjadi gejala ministroke. Keadaan kelelahan fisik, stres psikis, dan dehidrasi bisa juga menjadi pemicu timbulnya TIA atau ministroke.



Ada beberapa faktor risiko terjadinya TIA. Di antaranya riwayat keluarga stroke, usia di atas 55 tahun, hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes melitus, dan merokok. Sebagian faktor risiko bisa dimanipulasi dengan perubahan lifestyle dan minum obat sesuai anjuran dokter.





Waspada



Beberapa gejala khas ministroke sejatinya sama dengan stroke sebenarnya, hanya bedanya periodenya yang sementara dan kembali normal seperti semula. Itu yang sering dianggap remeh oleh penderita, keluarga, maupun tenaga medis terkait. Dianggap sudah sembuh dengan sendirinya dan cukup pemberian obat-obatan. Penelitian Oxford University menunjukkan, 10 sampai 20 persen ministroke akan menjadi stroke sebenarnya dalam rentang waktu tiga bulan bila tidak ditangani dengan baik.



Dari angka itu, 50 persen kasus terjadi dalam dua hari pertama setelah kejadian ministroke. Sebesar 68 persen masyarakat ternyata tidak tahu bahwa itu gejala ministroke. Bahkan, meskipun mereka tahu, 74 persen ternyata tidak langsung memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat. Prof Peter Rothwell, ahli neurologi Oxford University, mengatakan, ”Gejala ministroke harus dianggap keadaan emergency karena bisa menjadi stroke total dan ini yang belum diketahui masyarakat. Budaya ini harus diubah!”



Stroke mini merupakan warning sign untuk terjadinya stroke sebenarnya. Setelah TIA, harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari faktor penyebab. Beberapa pola pencegahan serangan ulang antara lain kontrol tekanan darah dan gula darah, turunkan berat badan, olahraga teratur, diet ketat garam dan lemak, banyak konsumsi buah dan sayur, hindari alkohol, dan berhenti merokok. Yang lebih penting, ikuti anjuran dokter apabila perlu terapi dengan obat-obatan tertentu.



Paradigma penanganan dan dogma tentang stroke harus diubah. TIA atau gejala ministroke adalah target penanganan stroke yang sebenarnya dan harus agresif dilakukan di masyarakat. Kampanye tentang TIA dan deteksi dini awal stroke akan mencegah terjadinya stroke sebenarnya yang mengakibatkan cacat permanen. TIA yang terjadi dan sembuh sempurna sering diremehkan masyarakat dan kalangan medis. Dianggap sembuh dan tidak perlu penanganan lanjutan.



Padahal, TIA merupakan alarm awal yang harus diperhatikan dan perlu pemeriksaan serta tindakan yang agresif dalam rangka pencegahan stroke lanjutan. Serangan kedua TIA biasanya lebih fatal dan lebih besar kemungkinan terjadinya stroke sebenarnya.



Edukasi dan kampanye tentang TIA atau ministroke kepada masyarakat sangat penting untuk menurunkan angka kejadian dan kecacatan akibat stroke. World Stroke Day 2016 mengingatkan kembali tentang bahaya stroke yang bisa menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. (*)





*)Dokter ahli bedah saraf, dosen FK Unair, dan peneliti di Surabaya Neuroscience Institute

Editor: Fim Jepe
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore