
GPB Suka Arjawa
Pada 28 Maret 2017, umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Realitas sosial yang menyertai hari raya itu justru sebaliknya. Sehari sebelum Nyepi, dirayakan apa yang dinamakan pengrupukan, sebuah perayaan bernuansa tradisional sekaligus postmodern. Hari tersebut merupakan penutupan tahun kalender Hindu di mana masyarakat Bali merayakannya dengan ramai-ramai, yang pada zaman sekarang perayaannya ditambah dengan pementasan ogoh-ogoh.
Pementasan itu baru muncul sekitar 1984, sebagai simbol penumpasan makhluk jahat penghuni jagat raya. Ogoh-ogoh, topeng buruk rupa itu, akan dihancurkan begitu selesai pementasan. Sesungguhnya pementasan tersebut amat berlebihan karena simbol tidak harus berwujud besar, cukup yang kecil segenggaman tangan. Namun, kapitalisme yang menyerbu Bali saat ini ikut mendorong munculnya ogoh-ogoh besar.
Pengrupukan dan Nyepi mempunyai temali yang kuat. Sebagai sebuah perayaan akhir tahun, pengrupukan secara tradisional mempunyai arti penting dalam khazanah sosial. Ia bermakna upaya bersih-bersih, pengusiran segala yang kotor untuk menyambut tahun baru. Tutup tahun haruslah memberikan kesan bahwa tahun yang lewat telah berjalan dengan baik. Dan kesan itulah yang hendak dibangun lagi sekaligus ditutup pada pengrupukan, satu hari menjelang Nyepi.
Pesan pengrupukan sangat terkait dengan konteks kehidupan sosial sehari-hari, mulai diri sendiri, ruang kerja, sampai aktivitas sosial yang lain. Manusia harus membersihkan diri setelah beraktivitas sebelum kemudian beristirahat malam hari (Nyepi, merenung) untuk kemudian kembali membersihkan diri bergembira saat menyambut hari esok. Demikian juga meja kerja, mesti bersih setelah usai bekerja. Sebab, dengan meja kerja bersihlah, saat memulai pekerjaan lagi esoknya, kita akan mampu berkonsentrasi dan merancang pekerjaan secara lebih baik. Demikian seterusnya sampai kita harus mencuci baju, piring, dan sebagainya.
Dengan demikian, Hari Raya Nyepi yang dirayakan satu hari setelah pengrupukan tersebut bukan hanya merupakan sebuah ritual, tetapi juga sebuah kontemplasi yang bermakna sangat luas dan saling berkaitan. Secara tradisional, masyarakat Bali menggelar Nyepi dengan sikap amati geni, amati lelungaan, dan amati lelanguan, yakni tidak boleh menyalakan api, bepergian, dan menikmati kesenangan. Itu hanyalah sebuah pesan yang merupakan sintesis dari pengekangan diri yang bermuara pada kontemplasi atau perenungan. Hanya dengan perenungan itulah, manusia akan dapat mengoreksi segala tindakan yang telah dilakukan tahun sebelumnya. Dan kemudian mencoba memperbaiki segala kekurangan tersebut pada tahun berikutnya untuk mencapai hasil maksimal.
Sekali lagi, dengan suasana hati dan lingkungan yang bersihlah, perenungan dan kemudian segala kritik itu dapat dilakukan secara lebih terbuka, adil, dan jujur. Dengan demikian, diharapkan dalam perjalanan waktu berikutnya, kehidupan sosial akan berjalan lebih lancar. Jika kita kaitkan dengan dunia kontemporer saat ini, sesungguhnya hari pengrupukan dan Nyepi ini mampu memberikan sumbangan yang luar biasa bagi kehidupan sosial. Bukan saja kepada individu, kelompok, dan masyarakat, tetapi juga negara dan dunia.
Adanya car free day di berbagai ruas jalan di kota-kota besar di Indonesia (termasuk Denpasar) hanya sumbangan kecil Nyepi kepada Indonesia. Akan tetapi, bagaimana kalau misalnya setiap negara di dunia menerapkan hal yang sama, bukan hanya kepada jalan raya, tetapi juga kepada industri, pabrik, dan sebagainya? Jutaan ton bahan bakar akan terselamatkan dan bumi bakal terhindar dari gas karbon monoksida.
Dalam kehidupan sehari-hari, Nyepi sesungguhnya hanyalah jeda waktu untuk merenung. Akan jauh lebih baik sebelum kita melakukan renungan itu membersihkan diri terlebih dahulu. Misalnya dengan mencuci muka atau membasuh kaki, bila perlu gosok gigi. Dan itu tidak harus dilakukan sore hari, tetapi bisa dilakukan siang hari.
Perenungan (Nyepi pun) bisa dilakukan tiap jam saat bekerja, bahkan setiap sepuluh menit. Mengatur pola napas boleh dikatakan sebagai upaya pembersihan diri karena dengan mengatur pola napas kita dapat menyegarkan pikiran. Dan saat itulah kemudian kita memejamkan mata sejenak untuk mengevaluasi segala macam kegiatan. Mengatur napas adalah pengrupukan dan memejamkan mata adalah Nyepi.
Di perkantoran, apabila mempunyai kesadaran Nyepi seperti itu, mungkin setiap karyawan atau manajer akan dapat melipatgandakan hasil. Politisi apabila mampu melakukan hal tersebut akan mampu memberikan kebijakan yang lebih baik untuk negara dan masyarakat. Juga apabila ormas-ormas mampu melakukan sikap seperti itu, tindakannya tidak akan anarkistis sampai merusak segala macam.
Jadi, praktik Nyepi sesungguhnya dapat dilakukan di mana saja; melintasi ruang, waktu, wilayah, generasi, kelompok, dan sebagainya. Kontemplasi tersebut dapat dilakukan setiap saat dan lekat dengan kehidupan kita. Dari sisi ini, filosofi Nyepi sesungguhnya merupakan kearifan lokal Indonesia yang apabila dimaksimalkan akan mampu menandingi teori ”Z” di Jepang.
Teori itu disebut-sebut sebagai pemicu dan pendorong keberhasilan perekonomian Jepang karena ada tindak penghargaan antara karyawan, perusahaan, dan manajer. Konon juga banyak perusahaan di Indonesia yang meniru menerapkan teori itu. Jika kemudian kita di Indonesia mampu menambahkannya dengan filosofi Hari Raya Nyepi, bukan tidak mungkin pencapaian perusahaan tersebut akan lebih baik. Saling memberikan penghargaan yang ada dalam teori ”Z” itu akan dilengkapi dengan kebajikan sebagai sebuah hasil perenungan yang merupakan inti dari perayaan Nyepi.
Perencanaan maupun implementasi dari sebuah perencanaan di bidang apa saja, baik bidang ekonomi, politik, maupun budaya, akan menjadi lebih baik kalau dilandasi adanya perenungan dan kontemplasi tersebut. Perencanaan akan lebih terarah apabila kemudian setiap saat kembali dipikirkan masak-masak sehingga mendapatkan kebaruan tanpa melenceng dari sikap semula.
Dengan demikian, Nyepi mempunyai manfaat besar menghadapi tantangan masyarakat kontemporer sekarang. Nyepi sejatinya ada di sekitar kita. Kita memerlukan pembersihan dan perenungan setiap saat untuk melanjutkan kegiatan kita agar lebih maksimal. Bahwa masyarakat Hindu di Bali merayakannya setiap tahun, hendaknya itu dipandang sebagai pengingat bahwa Nyepi dapat dilakukan setiap saat di setiap tempat dan oleh siapa saja. Menjadi salah satu cara menghadapi masyarakat kontemporer sekarang. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Aum Shanti, Shanti, Shanti Aum. (*)
*Dekan Fisip Universitas Udayana Bali

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
