
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai masih banyak kelemahan yang harus ditambal oleh pasangan Jokowi-Ma
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai, di pilpres 2019 dua kubu pasangan capres dan cawapres akan sengit memperebutkan simpati kaum milenial. Pasalnya suara pemilih pemula itu mencapai 40 persen.
Menurut Qodari, yang dikatakan milenial adalah mereka yang punya kesempatan lebih besar untuk mengakses media konvensional dan media sosial. Karean itu, jika menilik pola akses media, Jokowi lebih banyak diuntungkan karena followernya di medsos lebih besar dibanding lawan politiknya, yaitu Prabowo.
Beradasarkan data yang dihumpun Qodari, follower Jokowi di twitter berjumlah 10,4 juta, Prabowo hanya 3,3 juta. Kemudian, kalau Sandi 1 juta follower dan Ma'ruf hanya 8.000.
"Di instagram, Jokowi punya pengikut 12,1 juta, Prabowo cuma 1,6 juta. Sedangkan Sandi 2 juta dan Ma'ruf cuma 4 ribu. Jadi jomplang sekali," kata Qodari saat menjadi pembicara di diskusi Warung Daun, Jakarta, Senin (24/9).
Lebih lanjut, Qodari menjelaskan, kalau dari segi calon presiden, Jokowi memang lebih banyak unggul di media sosial. Hal ini dikarenakan, mantan wali kota Solo itu lebih sering menampilkan elemen gaya hidup yang lebih dekat dengan generasi milineal.
"Walaupun belum tahu cocok apa enggak. Tapi Jokowi lebih kontemporer daripada Prabowo. Bisa kita lihat dari gaya berpakaiannya. Prabowo lebih ke angkatan '45. Kalau gaya berpakaian Jokowi lebih ke generasi x," katanya.
Sementara itu, dari segi cawapresnya, Ma'ruf Amin lebih mewakili generasi tradisional. Karena itu, Ia mengaku tidak setuju kalau Ma'ruf dipaksa untuk bergaya milineal.
"Gimana caranya? Karena yang disebut milineal itu campuran dari generasi x dan y, secara umur ya di bawah 40 tahun," katanya.
Qodari juga mencatat kelemahan paling krusial pasangan Jokowi-Maruf, yaitu lemahnya jaringan di basis massa Islam. Terutama kalangan muslim modern di perkotaan.
"Karena Islam tradisional itu manifestonya ada di NU. Nah Jokowi itu lemah di kalangan Islam modern," kata dia.
Karena itu, sudah tidak ada waktu bagi Jokowi untuk segera membuat strategi cerdas agar bisa masuk ke dalam kelompok ini. "Jadi paling penting saat ini adalah, komunitas Islam modern dan terutama yang milenial," kata dia.
Sementara itu, peneliti senior LSI Ikram Masloman mengatakan, bagi kaum milenial demokrasi adalah sebuah kekecewaan. Makanya, mereka cenderung lebih suka kegiatan yang berbau sosial dibanding politik.
"Memang ada karakteristik generasi milineal walaupun ceruk mereka besar, tapi tidak mudah menggiring untuk berpolitik," kata Ikram.
Untuk mendekati kaum milineal, kata Ikram, caranya adalah melalui pendekataan hobi, Sementara, untuk agama berada di urutan nomor 6. Hobi itu sendiri ada tiga yang bisa dijadikan untuk alat pendekatan. Hobi itu ada 3, bisa film, musik, olah raga. Ini sudah jadi panduan pasangan Capres-Cawapres.
"Generasi milenial hari ini, mereka menjadi kelompok yang terjepit. Mereka kritis, punya banyak kreasi tapi tidak banyak akses terutama untuk pekerjaan," kata dia.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
