JawaPos Radar

Eggi Sudjana: 'Warung' LSI Denny JA Harusnya Sudah Bubar

24/08/2018, 20:32 WIB | Editor: Imam Solehudin
Jokowi KH Ma'ruf Amin
Politikus PAN, Eggi Sudjana tak percaya dengan hasil survei yang dirilis LSI Denny JA belum lama ini. LSI Denny JA seperti diketahui menyatakan jika elektabilitas Jokowi-KH Ma'ruf Amin unggul dari Prabowo Sandiaga (Fredrik Tarigan/JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Hasil Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyatakan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Terutama dari segi pemilih Islam.

Petahana disebut menguasai pemilih Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan beberapa ormas lain. Sedangkan penantang hanya unggul dikalangan Presidium Alumni (PA) 212.

Menanggapi itu, Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Eggi Sudjana mengkritik pedas LSI Denny JA. Menurutnya lembaga survei tersebut layak dibubarkan. Karena terlalu banyak membuat prediksi salah.

Kesalahan terbaru yang dimaksud seperti Pilkada DKI Jakarta 2017. Kala itu LSI menjagokan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat akan menang.

Namun pada akhirnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang ditetapkan sebagai pemenang. Pun demikian dengan prediksi elektabilitas Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah 2018, banyak meleset dengan selisih yang sangat besar.

"Mestinya warungnya Denny JA itu sudah ditutup. Karena salah melulu. Waktu awal DKI kan dia menangin Ahok sedemikian rupa, tapi siapa yang menang Sandi. Kemudian Jawa Barat dia memprediksi 7 persen paling tinggi untuk Sudrajat Syaikhu, faktanya dapat 29 persen hampir 30 persen. Jadi gagal surveinya," ujar Eggi di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (24/8).

Pengacara Imam Besar Front Pembela Islam Rizieq Shihab itu menegaskan, dengan fakta-fakta tersebut menjadikan kredibilitas LSI menjadi berkurang. Sebab data tersebut tidak bisa dibantah ataupun dimanipulasi.

"Itu adalah fakta-fakta yang tidak bisa dibantah. Mestinya anda tanya ke Denny JA kok begitu terus," tegasnya.

Selain itu, Eggy juga menganggap sistem yang diterapkan oleh LSI dalam melakukan survei kurang tepat. Karena hanya melibatkan responden yang sangat sedikit, sehingga tidak bisa dikategorikan telah mewakili seluruh masyarakat Indonesia.

"Tingkat responden sedikit, 1.200 mewakili 262 juta oranng atau katakan 200 juta orang yang ikut pemilu, atau lebih rendah lagi 180 juta orang, masa cuma diwakili 1.200. Dan katanya untuk 33 provinsi, kalau satu provinsi berapa? Kan nggak sampai 50 orang. Misal Jabar penduduknya itu 41 juta masa disurvei di bawah 50 orang," pungkasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up