Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Oktober 2021 | 23.35 WIB

Sebulan PTM di Jakarta, Belum Optimal tapi Lebih Baik Daripada PJJ

Persiapan jalur evakuasi di sekolah selama PTM terbatas. Dipta Wahyu/JawaPos - Image

Persiapan jalur evakuasi di sekolah selama PTM terbatas. Dipta Wahyu/JawaPos

JawaPos.com - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah mulai dilakukan, untuk di DKI Jakarta sendiri telah berlangsung sejak 30 Agustus lalu. 600 sekolah dipercaya sebagai yang pertama dalam melaksanakan PTM terbatas tahap 1 tersebut.

Terkait evaluasinya, Kepala Bagian Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taga Radja mengakui bahwa PTM selama sebulan ini memang jauh dari kata baik jika dibandingkan dengan kondisi normal. Namun, diyakini langkah ini dapat meminimalisir meluasnya learning loss.

"Itu juga meminimalisir learning loss, kita juga tidak meyakini betul ini akan efektif, karena kan banyak keterbasan. Anak saya aja seneng tuh kalo PTM, semangat," jelasnya ketika dihubungi JawaPos.com, Selasa (5/10).

Menurutnya, penyelenggaraan ini lebih baik apabila disandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang lebih kompleks. "Kita itu memberikan opsi pengalaman belajar kepada anak-anak didik kita merasakan nuansa di kelas dan bertemu teman-temannya," tuturnya.

Adapun, dalam pembelajaran PTM pun guru tidak langsung mengejar ketercapaian materi dan hanya mengajar mata pelajaran esensial saja. Contoh Matematika dan Fisika yang memerlukan penjelasan langsung dari guru agar murid lebih paham.

"Kenapa belum efektif dibanding normal, karena waktunya juga hanya singkat, hanya beberapa pelajaran saja itu 135 menit, jadi jam 11 kurang (selesai belajar). Waktu singkat itu seoptimal mungkin diajarkan guru untuk mengajar mapel yang sifatnya esensial. Lebih baik PTM dibanding PJJ," tambahnya.

Koordinasi antara sekolah dan puskesmas pun berjalan dengan baik selama PTM terbatas di Ibu Kota. Standar operasional prosedur pun juga jelas, apabila di sekolah ada yang sakit, baik itu gejala Covid-19 atau bukan, satuan pendidikan akan langsung berkoordinasi dengan puskesmas dan melakukan wawancara terhadap warga sekolah atau orang tua soal kondisi orang yang bersangkutan.

Jika dari wawancara itu menunjukkan adanya indikasi kasus positif, maka siswa dan guru tersebut dirujuk ke puskesmas terdekat dan orang tua yang disekitarnya dirujuk untuk swab PCR. Jika positif maka sekolah langsung ditutup 1x24 jam.

"Selama itu dilakukan disinfektan, tracing kembali. Nanti juga diedukasi dan diberikan pembinaan untuk orang-orang di satuan pendidikan tersebut," pungkas dia.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore