
Sejumlah akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencermati isu kerusakan lingkungan di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu.
JawaPos.com - Sejumlah Pakar Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) merekomendasikan sejumlah poin penting, terkait Pulau Reklamasi di Teluk Jakarta. Ya pasca penyegelan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tak sedikit yang mempertanyakan ihwal masa depan pulau tersebut.
Dari total 17 pulau yang direklamasi, ada 4 yang notabene hampir rampung. Kondisi inilah yang latas menjadi perhatian penuh para akademisi IPB.
Wakil Kepala PKSPL (Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan) IPB, Achmad Fahrudin serta Kepala Program Pusat Studi Bencana IPB, Syamsul Bahri Agus, memaparkan pandangannya terkait hal ini.
Achmad memaparkan bahwa kondisi kawasan pesisir utara Ibukota cukup memprihatinkan dari sisi pencemaran lingkungan. Di era 70-an, keberadaan biota laut di sana masih terjaga.
“Pengalaman masa kecil sekitar tahun 70-an, waktu memancing di Teluk Jakarta di pinggir-pinggir saja sudah dapat ikan," kata dia ketika menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Quo Vadis Pengelolaan Teluk Jakarta dan Pulau Seribu di Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/7).
Pun ketika dirinya melakukan riset di Angke sekitar tahun 1985. Saat pengambilan sampling substrat, masih ditemukan biota benthos. "Perlu digaris bawahi pada tahun 1984 pada saat pengambilan sampel tersebut, saat itu teluk Jakarta masih belum tercemar berat," jelas dia.
Barulah memasuki tahun 2000, kekhawatiran itu terjadi. Kawasan Teluk Jakarta benar-benar tercemar. Indikatornya terlihat saat dirinya melakukan pengambilan substrat.
"Polutan yang terambil tersebut sudah mengental di dasar perairan. Ternyata selama diamati perairan Teluk Jakarta, walaupun substratnya tercemar berat tapi kolom perairan yang ada diatasnya subur, banyak plankton dan nutrien," ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Syamsul. Syamsul juga ikut mengungkap risetnya di Teluk Jakarta dan Pulau Seribu. Menurutnya Teluk Jakarta saat ini penuh dengan sampah.
"Lumpur-lumpur hasil kerukan di Teluk Jakarta, dibuang di kepulauan seribu. Terumbu karang di Kepulauan Seribu sudah banyak ditemukan karang-karang mati," beber dia.
Syamsul membeberkan bahwa saat ini banyak pulau-pulau yang ditutup dengan pemecah gelombang.Hal ini mengakibatkan banyak larva dan juvenile ikan yang tidak masuk ke daerah pesisir pulau.
"Begitu juga dengan penyu yang biasnya banyak ditemukan bertelur dibeberapa pulau, saat ini tidak lagi dapat bertelur karena terhalang oleh pemecah gelombang yang menutupi pulau," jelas dia.
Peneliti FAN (Forum Alumni Independen) IPB, Muhammad Qustam Sihabuddin juga menyampaikan keresahannya terkait kondisi Teluk Jakarta.
Dia mempertanyakan soal keberadaan Pulau Reklamasi. “Sebenarnya pulau reklamasi yang sudah dibuat itu akan dijadikan apa dan difungsikan untuk apa? Seharusnya pulau yang ada harus berbasis dengan masyarakat yang ada disekitar pulau tersebut," saran Qustam.
Menurut Qustam, perlu ada perhatian terhadap masyarakat untuk dapat mengelola kegiatan berbasis marineculture di Kepulauan Seribu.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
