Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 November 2016 | 08.30 WIB

Mencekam, Penghancuran Pondok Perambah Hutan, Warga Renah Alai Siaga

Mencekam, situasi - Image

Mencekam, situasi

JawaPos.com MERANGIN – Suasana sangat mencekam saat sekitar 500 warga Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin,  melakukan sweeping ke wilayah perbatasan Desa Renah Alai dengan Desa Sungai Lalang, Kecamatan Lembah Masurai. 



Pada sweeping yang dilakukan Senin (7/11) sekira pukul 08.00 ini diikuti ratusan warga ini membawa senjata tajam.



Kemarahan warga muncul akibat adanya pendatang yang melakukan merambahan  hutan di wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) yang juga masuk dalam kawasan hutan adat Marga Serampas. 



Beruntung tidak ada bentrok yang terjadi. Belasan personel polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut mengawal jalannya aksi warga ini. 



Kepada harian ini, perangkat Desa Renah Alai, H Afaat, mengatakan, Sweeping dilakukan hingga pukul 12.00 WIB. Hasilnya, 6 orang perambah diamankan dan diserahkan ke petugas. Kemudian ada 4 pondok perambah ini juga dihancurkan serta 3 unit mesin sinso disita. 



“Kami mengusir perambahan TNKS di areal Desa Renah Alai Kecamatan Jangkat di perbatasan desa dengan Sungai Lalang. Lokasinya itu di rumah hitam. Tidak dibenarkan merambah hutan,” Ujar H Afaat seperti dikutip Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Selasa (8/11).



Menurut pengakuan pelaku yang merupakan eksodus dari Sumatera Selatan tersebut, mereka hanya pekerja harian yang diupah untuk merambah hutan. Dalam 1 hektare lahan yang ditebang mereka diberi uang Rp1,5 juta oleh Edi alias Edi Pendek warga Sungai Lalang yang berasal dari Tapan, Sumatra Barat.



“Hasil kesepakatan, Massa meminta dalang-dalang bos yang menyuruh merambah TNKS ini untuk diproses hukum. Gara-gara dalang yang dikhawatirkan menjual belikan TNKS inilah sering membuat masrakat kami resah dan sering hampir bentrok antar warga dan antar desa,” tegasnya.



Sementara itu, Hayani, yang juga perangkat Desa Renah Alai menyebutkan, aksi penebangan hutan yang dilakukan 6 pria tersebut berlangsung sejak Sabtu lalu. Tidak terima dengan itu, pihak desa langsung musyawarah dan sepakat untuk melakukan penyisiran. 



“Semuanya bawa parang. Kita harus menjaga hutan ini. Apalagi sudah masuk ke wilayah Desa Renah Alai,” ujarnya.



Terpisah Kapolres, Merangin AKBP Munggaran Kartayuga yang dikonfirmasi membenarkan kejadian pengepungan yang dilakukan warga. "Anggota kita sudah diturunkan untuk meredam aksi tersebut," ungkap Kapolres.



Dikatakannya, kejadian tersebut dipicu akibat warga tidak tahan melihat hutan dirambah warga pendatang. 



"Kades ini berapa kali mengirim surat kepada warga pendatang untuk tidak merambah hutan TNKS lagi. Namun masih juga terjadi maka tadi puncak kemarahan mereka, namun sudah bisa diredam setelah aparat sudah turun ke lokasi," tandasnya. (amn.nas/JPG)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore