Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Juli 2022 | 03.48 WIB

Malam 1 Sura, Lebih Baik di Rumah karena Banyak Energi Negatif Keluar

CUCI PUSAKA: Salah satu rangkaian acara kirab pusaka di Ponorogo untuk menyambut 1 Muharam. (Aji Perdana/Jawa Pos Radar Ponorogo) - Image

CUCI PUSAKA: Salah satu rangkaian acara kirab pusaka di Ponorogo untuk menyambut 1 Muharam. (Aji Perdana/Jawa Pos Radar Ponorogo)

Setiap malam 1 Sura, beberapa warga melakoni ritual tertentu. Sebab, diyakini banyak energi negatif yang keluar saat momen tersebut. Ada yang melakukan meditasi, membersihkan benda pusaka koleksinya, dan ada juga yang menggelar kirab serta melantunkan doa-doa.

---

MALAM 1 Sura atau malam pergantian Tahun Baru Hijriah memang sakral. Terutama bagi orang Jawa. Saking sakralnya, beberapa pantangan muncul. Misalnya, larangan keluar rumah setelah magrib. Sebab, banyak energi negatif yang muncul dan bisa berdampak fatal. Banyak kegiatan ritual yang juga dilakukan. Sebagaimana melakukan tapa hingga puasa.

’’Tapa malam 1 Sura ini jenisnya banyak,’’ kata Bambang Hadi Purnomo, praktisi spiritual, kemarin. Bisa di gunung, laut, Alas Purwo, maupun Alas Ketonggo. Bambang menyatakan, tapa kungkum digelar di Alas Ketonggo. Tepatnya di Kali Tempur. Prosesnya berjalan hingga tiga hari. Ritual dilakukan setelah magrib.

Bisa juga melakukan puasa ngebleng. Ritual itu tak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga berdiam diri dalam kondisi gelap. Waktunya dimulai setelah asar kemarin hingga asar hari ini, Sabtu, 30 Juli 2022. ’’Tidak boleh tidur dan berbicara sedikit pun,’’ kata Bambang.

Segala ritual yang dilakukan itu sebenarnya merupakan proses mengenal jati diri dan introspeksi. Menenangkan pikiran dan mencari ilham dari dalam diri. Termasuk menahan nafsu. Karena itu, mereka yang berhasil menjalani ritual malam Sura bisa mendapat tanda alam. Batinnya akan peka dengan segala peristiwa yang terjadi.

Bambang menjelaskan, soal larangan keluar setelah magrib, memang di beberapa masyarakat masih dipercaya. Hal itu sebetulnya sangat logis. Malam 1 Sura banyak pusaka yang dijamas atau dibersihkan. Energi yang ada di pusaka tersebut tentunya keluar dan itu tidak terkontrol. ’’Yang jamas pusaka juga tidak bisa mengontrol,’’ ucapnya.

Dalam Islam, lanjut dia, ada anjuran untuk membaca surah Yasin setelah salat Magrib. Hal itu memang benar, setidaknya batin tidak kosong dan ingatan tetap berpusat dengan Tuhan. Pada intinya, 1 Sura adalah puncak introspeksi diri selama setahun kemarin.

Berdiam dan menjauhkan diri dari keramaian sangat penting. Cara tersebut bertujuan mengenal sejatinya diri sendiri atau tafakur. Lelaku ritual Suroan sangat banyak macamnya, pun waktu pelaksanaannya. Bambang sendiri menggelar ritual selamatan pada Sabtu ini.

Sementara itu, di Ponorogo, 1 Muharam dirayakan dengan kirab tiga pusaka milik Eyang Batoro Katong. Yakni, Tombak Kiai Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Cinde Puspito, dan Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung.

Tiga pusaka itu kemudian dijamas dengan menggunakan air kembang telon yang terdiri atas bunga mawar, melati, dan kenanga. Airnya diambilkan dari sumber pitu (tujuh sumber) yang diyakini bertuah. Di antaranya, Tegalsari, Katongan, Karangtalok, Umar Sodiq, Imam Puro Danyang, Masjid Agung RMAA Tjokronegoro.

”Jamas pusaka ini bertujuan tolak bala. Harapannya, guyub rukun ayem tentrem,’’ kata Susilo Budi, budayawan sekaligus pembawa acara prosesi jamas pusaka.

Seusai prosesi, warga berebut air jamasan. Sebagian warga menggunakan air jamasan untuk membasuh muka. Sebagian diwadahi botol untuk dibawa pulang.

Ritual Jenang Suran di Makam Raja Kotagede


SETIAP malam 1 Sura, para abdi dalem di makam raja-raja Kotagede, Banguntapan, Bantul, menggelar jenang suran. Ritual tersebut bertujuan untuk menghormati para leluhur Kerajaan Mataram dan bentuk rasa syukur serta berharap agar dimudahkan dalam menopang beban hidup.

Penghageng Abdi Dalem Makam Raja Kotagede Raden Tumenggung Pujodipuro mengatakan, inti kegiatan jenang suran atau yang akrab disebut masyarakat Jawa sebagai jenang panggul sejatinya hanya pemanjatan doa-doa atau tahlilan di kompleks makam kerajaan.

Sebelum menuju kegiatan tersebut, para abdi dalem harus melakukan prosesi berupa arak-arakan uborampe yang terdiri atas jenang suran, tumpeng nasi kuning, sayur kari kubis, serta ingkung ayam kampung. Uborampe itu juga akan dibagi-bagikan kepada pengunjung yang datang dalam ritual tersebut.

”Jenang suran juga menjadi salah satu penghormatan dari kami para abdi dalem kepada raja-raja Mataram. Khususnya, Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya, juga Panembahan Senopati serta keluarganya,’’ ujar pria bernama asli Slamet Parjono itu saat ditemui Radar Jogja, Jumat (29/7).

Slamet menuturkan bahwa jenang suran sebenarnya berupa bubur beras biasa. Namun, menurut budaya Jawa, makanan tersebut sudah secara turun-temurun menjadi lambang rasa syukur serta pengharapan atas keselamatan dan kemudahan hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Kemarin siang menjelang sore, masyarakat sekitar kompleks Makam Kotagede yang didominasi ibu-ibu sibuk menyiapkan berbagai hal untuk menyambut ritual jenang suran. Mereka membuat jenang, ingkung, dan sayur pendamping jenang di dapur milik salah seorang warga.

Lebih dari itu, Slamet menjelaskan, jenang suran juga menjadi salah satu upaya leluhur abdi dalem agar warga tidak melakukan hal-hal yang tidak jelas saat malam 1 Sura. Misalnya, mencari pesugihan atau sebagainya. Hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

”Ritual ini kami lakukan supaya warga masyarakat sekitar tidak ke mana-mana saat malam 1 Sura, khususnya untuk melakukan hal-hal yang belum tentu benar tujuannya,’’ ungkap Slamet.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore