
Photo
JawaPos.com- Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Rusia (Permira) 2010-2011 Khoirul Rosyadi PhD turut mengapresiasi kunjungan Presiden Joko Widodo ke Rusia dan Ukraina pada 29-30 Juni. Dosen Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu menilai, kunjungan presiden itu sangatlah strategis. Baik untuk Indonesia saat ini maupun masa depan.
Karena itu, direktur Pusat Studi Bahasa dan Budaya Rusia di Surabaya itu berharap segenap rakyat Indonesia untuk turut memberi support dan mendoakannya. Mungkin, ada sebagian yang menganggap upaya tersebut tidak populis. ’’Tapi, langkah Indonesia sudah tepat dan memang harus diambil oleh Presiden Jokowi,’’ ujar Khoirul kepada Jawa Pos, Senin (27/6).
Kedatangan Presiden Jokowi, bukan hanya sebatas tujuan jangka pendek. Yakni, terkait pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November nanti. Agar Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mau datang.
Tapi, lebih dari itu. Menurut Khoirul, kunjungan itu untuk meneguhkan pesan dan sikap penting. Bahwa, jati diri Indonesia sejak dulu benar-benar sebagai negara cinta perdamaian. Dan, memiliki kepedulian tinggi akan kemanusiaan.
Walaupun, alumnus S-3 Sosiologi RUDN University Moscow itu menilai, kedatangan Presiden Jokowi itu mungkin tidak akan dapat menghentikan peperangan dua negara tersebut. Dia menilai, rasanya kecil kemungkinan Rusia mengakhiri begitu saja invasinya ke Ukraina. Sebab, akar persoalannya kompleks. Ibaratnya, hal itu menyangkut hubungan antartetangga. Ada etika, tata krama atau adab yang mesti dijaga.
’’Apa yang dilakukan Putin itu bagian dari pilihan-pilihan sebuah negara. Walaupun apapun alasannya, cara peperangan itu tentu tidak bisa dibenarkan, Nah, dalam konteks inilah kedatangan Presiden Jokowi ke Rusia dan Ukraina itu penting dan layak untuk diapresiasi, terlepas nanti mungkin saja hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Apakah nanti bisa berdamai atau tidak, itu soal lain,’’ papar alumnus S-2 Sosiologi UGM itu.
Selain sebagai penyampai pesan penting pada dunia bahwa Indonesia sebagai negara cinta perdamaian dan kemanusiaan, kedatangan Presiden Jokowi itu juga menyangkut hubungan timbal balik. Relasi saling bergantung antarnegara. Masalah pangan, sumber daya alam, keagamaan, Alutsista, dan lainnya. Meski sudah terpecah-pecah, namun Rusia tetaplah sebuah negara besar. Dengan segala potensi, kekuatannya, dan jaringannya.
‘’Perang berkepanjangan itu jelas sangat berdampak terhadap perekonomian dunia. Termasuk Indonesia. Masalah ekspor-impor. Terlebih setelah dihantam pandemi. Contoh kecil saja, jangan dikira, ikan bandeng asal Sidoarjo dan Gresik, itu juga banyak dijual di toko-toko Rusia lho,’’ kata ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Rusia 2010-2013 itu.
Khusus menyangkut masalah sosial dan keagamaan, lanjut Khoirul, Rusia hari-hari ini semakin berkepentingan menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Terutama perkembangan agama Islam.
Menurut dia, kiblat peradaban beragama di Rusia bukan lagi Timur Tengah, melainkan Indonesia. ‘’Negara kita ini menjadi role model bagi mereka. Di tengah heterogenitas, pluralitas atau kemajemukan, tetapi kita bisa tetap hidup rukun, berdampingan dengan baik. Harmoni tanpa berkonflik. Islam bisa menjadi rahmatan lil alamin,’’ ungkapnya.
Fakta tersebut juga disampaikan ketika Khoirul turut mendampingi kunjungan kehormatan dari Grand Mufti Rusia Mr Albir Krganov ke kediaman Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, di Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Kamis (16/6) pekan lalu. Saat sekarang ini, muslim di Rusia terus berkembang. Jumlahnya sudah 20 juta.
’’Nah, pemerintah Rusia tentu sangat berkepentingan menjalin kedekatan dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam, tetapi bisa menjaga harmoni dengan baik. Demikian juga harapan dari Rusia,’’ jelas dia.
Dalam pertemuan itu, lanjut dia, Albir Krganov yang juga sebagai Head of the Spiritual Assembly of Muslim of Russia juga menyampaikan keinginannya kepada NU. Yakni, ikut serta menebarkan model kepemimpinan dan pendekatan yang telah dilakukan selama ini ke-ada Rusia. Pendekatan tawassuth (tengah-tengah atau tidak ekstrem), tawazun (seimbang dalam segala hal), dan iktidal (tegak lurus) seperti karakter ber-Islam di Indonesia dirasa sangat sesuai.
‘’Nah, spirit itu sejalan dengan satu misi NU, tidak hanya berupaya menjaga peradaban dan perdamaian di Indonesia, melainkan juga peradaban dunia,’’ pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Ketua Komisi II DPR usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Be'er Sheva: De Kaasboeren Terlalu Digdaya di AFAS Stadion
Prediksi Skor Wofoo Tai Po vs Lion City Sailors di ACL Two: Tim Singapura Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Gangwon FC vs Phnom Penh Crown: Misi Tuan Rumah Raih Kemenangan Perdana di ACL Two
Prediksi Skor BG Pathum United vs Adelaide United: The Rabbits Waspadai Ketajaman Wakil Australia
Prediksi Skor Sparta Prague vs Lillestrom: Železná Sparta Siap Menang Telak di epet ARENA
Prediksi Skor Tampines Rovers vs Machida Zelvia: Wakil Jepang Berpeluang Curi Tiga Poin di Singapura
Prediksi Skor Kuching City vs Kitchee: The Cats Incar Poin, Wakil Hong Kong Ingin Beri Perlawanan
Prediksi Skor Celje vs Omonia: The Shamrock Jaga Mimpi Lolos ke 32 Besar

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022