Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juni 2026 | 16.25 WIB

Demo Mahasiswa jadi Alarm Keras bagi Presiden Prabowo, Ingatkan Segera Sikapi dengan Terobosan Kebijakan

BEM UI menggelar aksi demonstrasi bertajuk 'Aksi Menuju Indonesia Bangkrut' di kawasan Bundaran HI, Jakarta. (Reyhan/JawaPos.com) - Image

BEM UI menggelar aksi demonstrasi bertajuk 'Aksi Menuju Indonesia Bangkrut' di kawasan Bundaran HI, Jakarta. (Reyhan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah pada Jumat (12/6) dinilai sebagai respons atas sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Aksi unjuk rasa itu sebagai peringatan serius bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Aksi tersebut dipicu oleh berbagai persoalan, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, lonjakan harag kebutuhan sehari-hari serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax, hingga polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pengamat politik, Fernando Emas, mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto tidak memandang remeh potensi gelombang protes masyarakat yang dapat memengaruhi stabilitas pemerintahan, seperti yang pernah terjadi pada Reformasi 1998.

Menurut Fernando, Reformasi 1998 merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah politik modern Indonesia yang lahir dari akumulasi persoalan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat.

"Saya tidak menakut-nakuti pemerintahan Prabowo, melainkan untuk memberi peringatan berbasis sejarah yang nyata, yakni kondisi yang pernah memicu ledakan sosial seperti 1998 berpotensi berulang jika pemerintah tidak segera bertindak," kata Fernando Emas kepada wartawan, Minggu (14/6).

Ia menilai skenario “Reformasi 1998 Jilid II” tidak akan terjadi begitu saja. Namun, hal tersebut bisa menjadi kenyataan apabila pemerintah gagal atau terlambat melakukan pembenahan, terutama di sektor ekonomi.

"Artinya, masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur guna mencegah akumulasi kemarahan publik mencapai titik kritis yang tidak terkendali," ujarnya.

Fernando menekankan pentingnya keberanian pemerintah untuk melakukan terobosan kebijakan, termasuk mengevaluasi bahkan mengganti menteri yang dianggap tidak mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan ekonomi masyarakat.

"Kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil bukan sekadar angka statistik, ia berwujud dalam antrian panjang di SPBU, harga bahan pokok yang terus merangkak naik, tagihan listrik yang membengkak, dan lapangan kerja yang semakin sulit dijangkau," jelas Fernando.

Ia juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan protein hewani yang dinilai tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kondisi itu disebut terus menggerus daya beli masyarakat secara bertahap.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore