Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Februari 2026, 16.52 WIB

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Cak Imin: Cambuk Kewaspadaan Bersama

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar turut buka suara atas peristiwa memilukan yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Syahrul Yunizar/JawaPos.com) - Image

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar turut buka suara atas peristiwa memilukan yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Syahrul Yunizar/JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar turut buka suara atas peristiwa memilukan yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), belakangan ini. Menurut dia, tidak seharusnya anak sekolah bunuh diri. Apalagi dengan alasan tidak mampu membeli alat tulis seperti buku dan pena.

Menurut pejabat yang akrab dipanggil Cak Imin itu, peristiwa yang terjadi kepada anak berusia 10 tahun itu menjadi cambuk bagi semua pihak. Pemerintah dan masyarakat harus lebih peduli dan peka terhadap kebutuhan masyarakat. Jangan sampai peristiwa serupa terulang dan kembali memakan korban anak-anak yang seharusnya menjadi masa depan bangsa.

”Ini harus menjadi cambuk ya, kewaspadaan kita, kehati-hatian kita. Semua membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapapun. Pemerintah juga waspada, masyarakat satu dengan lain harus gotong royong,” kata dia saat ditanyai oleh awak media pada Selasa malam (3/2).

Tidak hanya itu, Cak Imin juga menegaskan bahwa akar persoalan dari peristiwa itu harus dicari. Menurut dia, peristiwa tragis tersebut menunjukkan ada frustasi sosial yang harus ditemukan solusinya. Salah satunya dengan terbuka satu sama lain dan mengedepankan gotong royong di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang mengalami hal serupa.

”Kita cari akar masalah, akar masalah frustasi sosial itu sudah sejauh mana. Tapi, yang penting keterbukaan, gotong royong. Menjadi cambuk kita untuk terus waspada,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa seorang anak berinisial YBS nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Peristiwa itu menjadi sorotan publik karena YBS meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Dalam surat tersebut, salah seorang pelajar SD di Ngada tersebut menyebut alasan dirinya mengakhiri hidup. Yakni karena ingin membeli buku dan pena seharga Rp 10 ribu.

MGT selaku ibu YBS tidak memiliki cukup uang untuk membelikan anaknya buku dan pena. Sebab, kini MGT menjadi orang tua tunggal. Pekerjaannya juga hanya petani dan buruh serabutan. Di saat yang bersamaan, dia harus menafkahi 5 orng anak. Tak pelak, kabar yang datang dari Ngada tersebut menjadi atensi publik secara luas.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore