Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (YouTube KDM Channel)
JawaPos.com – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) melakukan koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait maraknya praktik alih fungsi lahan di wilayah Jawa Barat. Menurutnya, persoalan banjir, khususnya di Bandung telah menjadi peristiwa tahunan yang semakin memburuk akibat perubahan alokasi lahan yang tak terkendali.
KDM mengungkapkan, di wilayah Kota Bandung hampir tidak tersisa lagi sawah, rawa, maupun danau. Kawasan yang dulu menjadi ruang resapan air itu kini berubah menjadi permukiman dan kompleks perumahan elit di dataran tinggi, yang diperluas dengan mengeruk tanah dari wilayah yang lebih rendah.
"Pertanyaannya, tanah untuk menguruk itu diambil dari mana? Dari tempat lain. Akibatnya, wilayah lain mengalami penurunan permukaan, sementara kawasan elit meninggi. Ketika hujan tiba, yang menjadi korban adalah daerah yang permukaannya turun," kata KDM usai rapat internal dengan KPK di Gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (11/12).
Menurut KDM, warga yang paling terdampak banjir berada di daerah aliran sungai (DAS) seperti wilayah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan PSDA. Karena itu, Pemprov Jabar mulai menyiapkan langkah relokasi bagi warga yang tinggal di kawasan rawan tersebut.
“Sekarang sudah disiapkan tempat kontrak selama satu tahun untuk warga yang direlokasi. Setelah itu kita akan melakukan pembebasan lahan,” ujar KDM.
Lahan yang dibebaskan nantinya akan digunakan untuk melebarkan sungai, menambah ruang resapan air, hingga membangun embung-embung baru. Dengan cara ini, KDM berharap Jabar tidak lagi dihantui banjir setiap tahun.
“Diperlukan solusi jangka panjang melalui penataan ulang kawasan dan pengendalian alih fungsi lahan,” tegasnya.
KDM juga menyoroti maraknya alih fungsi lahan di Ciwidey, terutama di area milik PTPN. Ia mengungkapkan, banyak pohon teh ditebang dan diganti dengan tanaman sayuran, bahkan sejumlah kawasan hutan turut dialihfungsikan.
“Ini yang akan kita hentikan. Lahan-lahan itu akan kita kembalikan menjadi perkebunan teh dan tanaman keras. Pengelolaannya nanti dilakukan oleh Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat,” papar KDM.
Ia meyakini, pelibatan KPK akan memperkuat pengawasan di wilayah Pemrov Jabar. Hal ini penting, agar penataan ulang lahan berjalan sesuai regulasi, serta bebas dari praktik yang merugikan negara maupun lingkungan.
"Concern kita, kita nyatakan bahwa hampir semua alih fungsi lahan itu ilegal dalam pandangan saya. Jadi kita sudah mengingatkan pada PTPN untuk tidak lagi melakukan perubahan peruntukan, yaitu membuat KSO pariwisata yang merusak ekosistem perkebunannya sendiri. Jadi kita sudah minta hentikan," pungkasnya.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
