Tumpukan kayu akibat banjir menimbun rumah di Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (7/12/2025). (ANTARA/Hayaturrahmah)
JawaPos.com - Bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Polri kini tengah menyelidiki temuan kayu gelondongan di lokasi terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Atas langkah tersebut, pemerhati isu-isu kepolisian R. Haidar Alwi mengingatkan bahwa kejahatan lingkungan kerap kali dilakukan secara terorganisir.
Menurut Haidar, temuan kayu gelondongan di lokasi terdampak bencana menunjukkan betapa kerusakan lingkungan dapat memperburuk kerusakan yang terjadi akibat bencana alam. Menurut dia, langkah yang diambil oleh Polri adalah bukti bahwa institusi kepolisian memosisikan kejahatan lingkungan sebagai ancaman yang berdampak langsung terhadap keselamatan warga.
”Alih-alih hanya menindak pelaku saat ada laporan, Polri mencoba menghubungkan pola kejahatan lingkungan dengan risiko bencana, sehingga pendekatan hukum dapat diarahkan pada pencegahan kerusakan yang lebih besar,” ungkap dia dikutip dari keterangan resmi pada Senin (8/12).
Menurut Haidar, langkah hukum yang diambil oleh Polri untuk menyelidiki dugaan terjadinya pembalakan liar atau tindakan melanggar hukum lainya perlu dibarengi dengan pengembangan sampai pada jaringan distribusi kayu. Sehingga Polri dapat mengungkap struktur yang menyebabkan terjadinya illegal logging, bukan hanya menangkap pelaku lapangan.
”Itu penting karena karakter kejahatan lingkungan terorganisir. Ada operator lapangan, pengangkut, penadah, hingga pihak yang mungkin terhubung dengan oknum pemilik modal,” teranga dia.
Karena itu, Haidar menilai efektivitas penegakan hukum dalam kasus tersebut tidak hanya diukur dari jumlah kayu yang disita, melainkan dari sejauh mana penyidik mampu menelusuri rantai pasok dan menutup ruang operasi para pelaku. Tentu saja hal itu bukan perkara mudah. Ada tantangan seperti kebutuhan memperkuat kapasitas forensik lingkungan.
”Pembuktian asal-usul kayu, penyebab kerusakan di titik tertentu, serta pemetaan ruang jaringan operasi membutuhkan kemampuan teknis dan kolaborasi lintas lembaga, terutama dengan kementerian yang mengelola kehutanan dan lingkungan hidup,” jelasnya.
Selain itu, pendiri Haidar Alwi Institute tersebut menyampaikan bahwa menjaga transparansi dalam proses hukum dalam isu-isu sensitif di tengah penanggulangan bencana juga penting. Apalagi bila mengingat praktik pembalakan liar sering kali melibatkan kepentingan ekonomi lokal maupun regional. Dibutuhkan kecermatan penyidikan dan komunikasi publik yang baik agar masyarakat yakin dan percaya.
Lebih lanjut, Haidar menyampaikan bahwa penanganan bencana di Sumatera dan penindakan illegal logging memberikan gambaran bahwa Polri berada pada titik transisi menuju pola kerja yang lebih terintegrasi dan berbasis risiko. Untuk itu dia mendukung dan mengapresiasi langkah yang diambil oleh Polri dalam penanggulangan bencana di Sumatera.
”Di tengah situasi bencana yang kompleks, banjir bandang, longsor, serta terputusnya akses antarwilayah, Polri bergerak dengan pola yang menampilkan tiga elemen kunci, yaitu kecepatan mobilisasi, efisiensi koordinasi, dan adaptasi fungsi kepolisian ke ranah kemanusiaan,” ujar dia.
Sebelumnya, untuk mencari tahu asal-usul kayu gelondongan di lokasi terdampak bencana alam Aceh, Sumut, dan Sumbar, Polri dan Kemenhut membentuk Satuan Tugas (Satgas) Gabungan.
Pembentukan satgas itu dibahas bersama-sama oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam pertemuan yang berlangsung di Mabes Polri pada Kamis malam (4/12). Menurut Jenderal Sigit, temuan kayu gelondongan itu sudah menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto.
”Kami menyambut baik dan akan melakukan kerja sama dengan menteri kehutanan dan tim untuk membentuk Satgas Gabungan guna melakukan penyelidikan terkait temuan-temuan kayu yang diduga berdampak terhadap kerusakan, jembatan rusak, rumah terdampak, hingga adanya korban jiwa,” terang dia kepada awak media.
Jenderal Sigit menyampaikan bahwa sudah ada personel Polri yang turun ke lapangan dalam rangka melakukan penyelidikan. Nantinya personel itu akan bergabung dengan tim dari Kemenhut dan unsur lain yang diperlukan dalam mengungkap asal-usul kayu gelondongan tersebut.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
